Teori Berpikir Tingkat 2

Sebagai manusia, tentu kita sering mempertanyakan tentang kebenaran sesuatu hal yang tidak kelihatan. Sesuatu yang tidak kelihatan ini dinamakan ghaib. Jadi yang dinamakan ghaib bukan hanya tentang makhluk supranatural, namun ghaib itu sendiri ada 4 (empat) macam, yaitu:

  1. Sesuatu yang tersembunyi
  2. Sesuatu yang terhalang
  3. Sesuatu yang sudah lampau
  4. Sesuatu yang akan datang

Itulah 4 (empat) hal yang menyebabkan sesuatu bisa dikatakan ghaib. Hal-hal ghaib yang sering kita pertanyakan dapat dicontohkan berikut ini.

Ingin mengetahui apa yang ada di balik tembok?
Ingin mengetahui apa yang ada di dalam tanah?
Ingin mengetahui apa isi dasar samudera?
Ingin mengetahui apa kandungan dalam perut bumi?
Ingin mengetahui apa yang ada di balik langit?
Ingin mengetahui apakah benar surga dan neraka itu ada?
Ingin tahu, Tuhan ada atau tidak …

Untuk mengetahui sesuatu yang ghaib itu benar atau tidak, maka harus ada dalilnya. Syarat dalil: “Harus terindra oleh akal“. Dalil sendiri dapat dinilai sebagai berikut:

  1. Hanya ada 1 alternatif yang membenarkan, PASTI BENAR (wajib aqli)
  2. Lebih dari 1 alternatif yang membenarkan, BISA BENAR BISA SALAH (jaiz aqli)
  3. Tidak ada alternatif yang membenarkan, PASTI SALAH

Untuk yang masih bingung, mari lihat contoh dibawah ini.

Image

Gambar di atas adalah sebuah tembok. Dapatkah kita mengetahui apa yang ada di balik tembok tersebut?

Bila ada pernyataan yang mengatakan: Dibalik Tembok Ada Kambing, apakah itu benar? Bagaimana nilainya?

  1. Pasti Benar 
  2. Bisa Benar Bisa Salah
  3. Pasti Salah

Apa pilihan jawaban Anda?

Bila Anda menjawab nomor 2, Bisa Benar Bisa Salah, berarti anda tidak berfikir, anda tidak menggunakan akal anda.

Mengapa?

Karena tidak menggunakan Dalil.

Bagaimana jika ada dalilnya?

Dalil: Ada suara mengembek di balik tembok tersebut.

Jika ada sudah ada dalil tersebut, maka kita baru bisa menjawab dengan jawaban nomor 2 (Bisa benar bisa salah). Kenapa memilih jawaban nomor 2? Karena ada lebih dari 1 (satu) alternatif yang membenarkan. Alternatifnya: bisa saja yang mengembek itu suara kambing asli, bisa saja suara dari tape recorder, bisa suara orang yang mengembek. Begitulah.

Mari kita lihat contoh berikutnya.

Image

Jika ada jejak ban seperti di atas, apakah benar pernyataaan bahwa: Tadi malam ada mobil lewat?

Karena kita sudah mempelajari jawabannya di contoh satu, maka benar tidaknya pernyataan ini harus didukung dengan dalil yang ada. Misalkan:

  1. Ada rekaman CCTV. Apakah bila ada rekaman CCTV bisa menjamin bahwa tadi malam ada mobil lewat? Bukankah CCTV juga bisa direkayasa/diedit. Berarti ada lebih dari satu alternatif. Maka jawabannya: Bisa Benar Bisa Salah.
  2. Ada saksi, misalkan ada tetangga yang melihat. Apakah bila ada saksi bisa menjamin ada mobil yang lewat tadi malam? Bukankah saksi juga bisa berbohong? Si saksi bersumpah atas nama Tuhan. Apakah bila saksi bersumpah atas nama Tuhan ia tidak berbohong? Artinya masih banyak alternatif yang bisa muncul, maka dipastikan jawabannya Bisa Benar Bisa Salah.
  3. Bukankah jejak ban tadi bisa saja diciptakan oleh mobil, gerobak, ban yang sengaja digelindingkan, sandal ban (biasanya sandal santri,hehe :-p ), stempel yang sengaja dibuat seperti jejak ban, dan bisa saja jejak ban tersebut sengaja digambari (kalau ini, boleh dibilang kurang gawean :-p ).

Di luar alternatif di atas, pasti masih banyak alternatif lain yang melayang-layang di pikiran kita. Banyaknya alternatif tersebut memberikan gambaran bahwa pernyataan: TADI MALAM ADA MOBIL LEWAT memiliki jawaban BISA BENAR BISA SALAH.

Lalu pernyataan apa yang bisa menjamin pernyataan itu benar?

Jawabannya adalah: PASTI ADA YANG MEMBEKASINYA. Karena kalau tidak ada yang membekasi jejak ban itu pasti tidak akan pernah ada. Entah yang membekasi itu mobil asli, gerobak, digambari, atau bahkan malaikat atau jin atau setan yang membekasi. Intinya pasti ada yang membekasi.

Begitupun dengan adanya Tuhan. Adanya alam semesta, adanya gunung, adanya lautan, pasti ada yang membuatnya. Siapa pembuatnya? Apakah benar itu Tuhan? Kajilah lebih dalam dengan dalilnya.

*Berlanjut di Teori Berpikir Tingkat 3

Leave a comment

Filed under Cerita Pribadi

Silakan tinggalkan pesan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s