Tersesat

Konon dahulu kala ada sebuah desa bernama desa Ambyar. Desa Ambyar adalah negeri yang tidak memiliki tanah yang subur, sehingga untuk bercocok tanam pun tidak mungkin. Untuk melaut pun tidak mungkin karena desa itu terletak di tengah daratan. Mengetahui kelemahan desanya, banyak warga berprofesi menjadi pedagang. Berkat ketekunannya dalam bekerja, serta tidak lupa berdoa pada Tuhannya, banyak warga yang menjadi sukses.

Ada seorang pedagang pemula bernama Abu. Umurnya menginjak 23 tahun. Ia awalnya adalah seorang pekerja serabutan, bahkan sering juga merantau ke luar desa untuk mencari nafkah. Melihat susahnya mencari nafkah dengan menjadi kuli, Abu banting stir dan mulai usaha berdagang. Melihat potensi desanya yang tidak bisa untuk bercocok tanam, Abu memilih menjadi pedagang produk pertanian, seperti sayuran, buah, gandum, dsb. Abu membeli barang dari desa sebelah yang jaraknya 1 hari berjalan kaki, lalu menjualnya ke desa yang lain dengan jarak 2 hari berjalan kaki. Apabila barangnya laku dijual maka Abu akan membeli barang yang ada di desa kedua. Desa kedua merupakan penghasil pakaian dan kain. Sehingga Abu berangkat membawa gandum, buah, dan sayur, maka ketika pulang ia akan membawa kain dan pakaian untuk dijual lagi di desa yang lain.

Nasib naas menimpa Abu kala bulan Ramadhan itu. Ia yang biasanya berangkat bersama kawan-kawan di desanya, pagi itu ia bangun kesiangan. Sudah tentu apabila bangun kesiangan maka dipastikan ia tidak akan mendapat bagian gandum, buah dan sayur karena sudah diborong oleh teman-temannya. Akhirnya berbekal nekat Abu tetap berangkat, sambil berdoa semoga barang-barangnya masih ada di petani. Karena berangkat agak siang, di tengah jalan ia kepanasan, padahal biasanya apabila sudah terik siang ia sudah sampai di daerah yang sejuk, yaitu daerah hutan di kaki gunung. Karena sudah tidak kuat berjalan Abu melihat ada sebuah jalan berbelok yang masuk ke hutan. Jalan itu belum pernah ia tempuh sebelumnya. Karena merasa sudah tidak kuat untuk melanjutkan perjalanan lewat jalan yang sedang terik itu, Abu memilih jalan yang lain, yang ia sendiri tidak tahu mengarah kemana. Ia hanya yakin dan terus berdoa pada Tuhannya agar diberikan jalan. Abu pun mengambil jalan tersebut.

Tiba-tiba, selang berapa lama hujan turun, Abu kelimpungan. Ia mencari tempat teduh namun tidak menemukan. Sayup-sayup ia melihat sebuah gua, dan akhirnya Abu menuju ke gua itu. Hujan ternyata semakin deras dan tidak ada tanda-tanda akan reda. Abu pun memutuskan untuk bermalam di gua tersebut. Saking lelahnya Abu pun tidur hingga esok pagi. Keesokan paginya ia bangun dan mendapati tempat yang indah. Ternyata kemarin waktu hujan ia tidak menyadari bahwa ia melewati kebun bunga yang indah, hutan yang lebat dan sungai besar di samping gua. Ia mengucap syukur pada Tuhan. Ia mengerti apa yang harus dilakukan. 

Ia mendapat ide untuk membendung sungai tersebut dan mengalirkannya ke desanya. Tidak lain adalah agar air bisa mengairi desanya dan bisa ditanami tumbuhan. Ia pulang dan mengutarakan hal tersebut ke tetua desa. Tetua desa tertawa, bagaimana mungkin membendung sungai dan mengalirkannya ke desa padahal antara desa dan sungai besar tersebut dipisahkan oleh sebuah bukit. Abu mencoba meyakinkan bahwa bukit tersebut bisa dibelah, namun tetua desa semakin tertawa, dan mengatakan itu hal yang mustahil. Abu pun menyerah.

Abu tidak kehabisan akal. Ia yakin bahwa sungai tersebut adalah takdir dari Tuhan yang mampu memakmurkan desanya. Akhirnya setiap 2 hari sekali setelah berdagang ke desa tetangga, ia berangkat ke sungai, membendung sungainya, dan sambil pulang ia mulai membelah bukit yang tinggi tersebut. Ia melakukan itu tanpa kenal lelah. Bulan demi bulan, tahun berganti tahun, Abu tidak menyerah, hingga akhirnya pada tahun ke-7 ia sudah berhasil membendung sungai dan membelah bukit. Abu mengalirkan sungai tersebut ke desanya hingga banjir. Penduduk desa pun heran kenapa bisa datang banjir padahal tidak ada sungai di pinggir desa. Mereka pun teringat akan usaha Abu yang tidak kenal lelah membelah bukit setiap sepulang berdagang. 

Penduduk desa akhirnya bisa bercocok tanam sekarang. Abu pun sekarang bisa menanami tanah peninggalan orang tuanya dan menanaminya dengan buah-buahan. Abu memetik buah kerjanya. Ia menjadi orang yang dihormati di desa. Abu sendiri pun senang bisa membantu warga desa. 

***

Terkadang kita mengalami kejadian yang menyedihkan, melelahkan, dan kadang merasa apa benar ini jalan yang diberikan Tuhan untuk kita. Namun yakinlah, bahwa setiap jalan yang Tuhan pilihkan ke kita ada tujuannya. Mungkin kita sesekali tersesat, namun di balik itu semau Tuhan sedang merencanakan sesuatu yang lain untuk kita. Jangan pernah letih bekerja. Jangan pernah lelah untuk berdoa. Tuhanmu ada di sana. Kamu hanya cukup menengadahkan tangan dan meminta pada-Nya. 

Tuhan, saya ingin hidup bahagia, bukan untuk diri saya sendiri, namun hidup bahagia bersama orang lain

Leave a comment

Filed under Cerita Pribadi

Silakan tinggalkan pesan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s