Perpolitikan Kampus

Ilustrasi demonstrasi

Ilustrasi demonstrasi

Sudah sejak lama, kampus menjadi tempat belajar tentang politik. Mahasiswa membentuk pemerintahannya sendiri. Mulai dari Himpunan Mahasiswa (HM), Badan Eksekutif Mahasiwa (BEM), hingga Dewan Perwakilan Mahasiswa (DPM). Mahasiswa pun memiliki presiden mahasiswa sendiri. Kegiatan eksekutif dikerjakan oleh BEM dan legislatif dikerjakan oleh DPM. Persis seperti pemerintahan negara. Kemudian ada HM yang mirip dengan pemerintahan di tingkat Kabupaten. Ada pula UKM (Unit Kegiatan Mahasiswa) yang menaungi mahasiswa dengan minat dan bakat yang sama.

Tidak sedikit pula dari mahasiswa ini yang membentuk partai. Saya dengar sih tujuannya untuk mengakomodir kepentingan mahasiswa. Mengaspirasikan suara mahasiswa, lalu memobilisasi mahasiswa apabila ada kebijakan kampus yang merugikan mahasiswa. Sisi positifnya, mahasiswa bisa menjadi pembelajar politik sejak dini, sehingga bisa menjadi bekal apabila nanti menjadi politisi sungguhan. Namun sisi negatifnya, mereka yang terbiasa bersaing secara tidak sehat di perpolitikan kampus, maka ketika menjadi politisi betulan, bukan tidak mungkin mereka juga akan sikut menyikut lawan politiknya.

Kepartaian di mahasiswa juga ada yang merupakan perpanjangan tangan dari partai politik nasional. Parpol tahu betul potensi mahasiswa. Pemikiran-pemikiran mereka. Betapa kuat dan militannya mahasiswa. Apalagi untuk partai oposisi. Mahasiswa bisa menjadi kekuatan untuk meruntuhkan pemerintah. Namun ada juga kepartaian mahasiswa yang mengaku idealis dan netral dari pengaruh parpol nasional. Saya kurang tahu kalau yang seperti itu.

Proyek kampus. Hal ini seringkali menjadi bahan obyekan bagi mereka yang berpolitik secara buruk di kampus. Misalnya saja ketika akan melaksanakan kegiatan ospek. Ospek merupakan program kerja kampus dengan dana ratusan juta. Apalagi untuk kampus dengan jumlah mahasiswa mencapai puluhan ribu. Dana ospek mungkin mencapai miliaran rupiah. Artinya apa? Dana sebesar itu bukan tidak mungkin menjadi bahan obyekan bagi mahasiswa sendiri. Ada yang bergabung menjadi panitia ospek dan memilih bidang konsumsi. Agar dana konsumsi yang ada, bisa diobyekan ke perusahaan catering miliknya sendiri. Atau minimal dialihkan ke catering lalu dia mendapat persenan.

Ada yang ngobyek di bidang konsumsi, ada pula di bidang dekorasi dan dokumentasi, perlengkapan, kaos ospek, dan sebagainya. Itu bukan proyek yang sedikit. Dengan sedikit keahlian, entah itu membuat nota palsu, cap palsu, dan manipulasi proposal, maka mahasiswa nakal itu bisa memanen uang yang tidak sedikit. Dari mana mereka belajar? Ada yang belajar dari kakak angkatannya, dari teman, atau ia sendiri memang cerdas sehingga bisa melihat celah.

Berbagai contoh kelakuan nakal tersebut dilakukan oleh mahasiswa, dari tingkat staf bahkan Presiden Mahasiswa. Kalau dari mahasiswa saja sudah bobrok bagaimana nanti ketika menjadi pejabat sungguhan. Ketika mahasiswa memalsukan tanda tangan ketua mungkin hal yang sepele. Namun ketika sudah terbiasa bukan tidak mungkin ketika sudah bekerja hal serupa akan ia ulangi.

Pengalaman saya selama malang melintang di organisasi kampus seperti itu. Namun tidak semuanya bobrok. Ingat! Tidak semuanya bobrok. Saya hanya mencoba mengorek sejumlah oknum yang mengaku memperjuangkan kepentingan mahasiswa namun di balik itu semua, mereka memperkaya diri, teman-temannya, dan golongannya. Mungkin teman-teman yang membaca blog saya ini juga serupa, semoga saja malah tidak seperti itu. Semoga mahasiswanya baik-baik semua. Semoga.

Leave a comment

Filed under Sosial

Silakan tinggalkan pesan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s