Kapitalisme Bangsa Sendiri

Perjuanganku mudah karena mengusir penjajah, namun perjuanganmu akan lebih sulit karena melawan bangsamu sendiri – Soekarno

Penggalan dari tulisan Soekarno di masa lalu tersebut, menyadarkan kita bahwa bahaya kapitalisme sudah tercium bahkan sejak zaman kemerdekaan. Mungkin saja malah sebelum kemerdekaan.

Ketakutan Soekarno mengenai perlawanan melawan bangsa sendiri sudah kita alami sekarang. Bagaimana ketika Hari Buruh 1 Mei kemarin para buruh berdemonstrasi menuntut peningkatan upah kepada perusahaan. Para pemilik usaha dari golongan pribumi enggan memberikan upah diatas UMR. Hanya sedikit yang memberikan upah melebihi selayaknya.

Pengusaha lokal meniru gaya pengusaha internasional, yang tidak lain memakai gaya kapitalisme. Intinya, dengan memakai modal sekecil-kecilnya untuk mendapat untung sebesar-besarnya. Misalnya saja di perusahaan rokok. Asal tahu saja, petani rokok adalah petani nomor 2 paling miskin di Indonesia. Petani termiskin pertama ditempati oleh petani cokelat. Perusahaan rokok membeli tembakau dari para petani dengan harga yang rendah, bahkan sangat rendah. Mau tidak mau petani harus menjualnya karena bila tidak dijual ia akan mendapat uang dari mana. Selanjutnya tembakau masuk pabrik dan diproses oleh buruh pabrik rokok. Buruh pabrik rokok pun gajinya kecil, hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, kalau bisa menabung pun itu kecil. Mau tidak mau buruh pabrik akan memilih bekerja disana daripada menganggur. Selanjutnya rokok dijual ke pasar. Dengan modal kecil, biaya tenaga kerja yang kecil, rokok dijual dengan harga tinggi, si pemilik modal-lah yang menikmati keuntungannya.

Coba dipikir, kita ambil salah satu contoh perusahaan rokok terbesar di negeri ini. Ia mampu mensponsori berbagai macam kegiatan olahraga, memberi beasiswa kepada pelajar, belum lagi kegiatan yang lain. Kalau dana CSR-nya saja sebesar itu, maka bisa dibayangkan keuntungan yang diperoleh ada seberapa.

Itu baru dari pabrik rokok saja. Belum lagi dari pabrik mie, pabrik otomotif, dan pabrik-pabrik yang lain. Di sisi pertama, para pengusaha lokal itu memberi pekerjaan, namun di sisi lain ia juga menindas kita dengan upah yang tidak seberapa. Coba bandingkan dengan para pekerja di luar negeri, apakah mereka sering berdemo? Jawabannya tidak, karena mereka dibayar cukup. Coba dibandingkan dengan buruh di negeri ini, tiap minggu pasti ada saja orang-orang yang berdemo.

Dengan kekuatan modal, pengusaha lokal mencoba mengeksploitasi negeri sendiri. Menguras minyak bumi, mengeruk batu bara, mengeruk emas dan mineral logam, menanam kelapa sawit, dan sebagainya. Para pekerja dibayar kecil sehingga keuntungan yang diperoleh semakin besar. Orang kaya akan semakin kaya, sedangkan yang miskin akan semakin miskin.

Kondisi inilah yang dinamakan dijajah bangsa sendiri. Mau dilawan toh ia juga saudara sendiri, kalau tidak dilawan ia menindas kita.

Solusinya apa? Saya juga belum tahu. Namun intinya, sosialisme sudah runtuh pada akhir tahun 90-an, nah sekarang mungkin saatnya kapitalisme juga harus runtuh. Diganti dengan apa? Saya juga belum tahu.

Leave a comment

Filed under Sosial

Silakan tinggalkan pesan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s