Petani Pepaya California Purwokerto Lolos Audisi The Marketeers Young Start Up Icon 2013 Kota Yogyakarta

Ajang bergengsi The Marketeers Youth Start Up Icon 2013  kemarin selesai digelar pada hari Senin di Discovery Cafe, Yogyakarta. Audisi yang digelar di Kota Yogyakarta merupakan gelaran kota yang ke-6 dari seluruh total 17 kota di Indonesia. Banyak pengusaha muda mendaftarkan dirinya untuk mengikuti audisi ini. Tidak terkecuali Rohmat Syahru Romadlon, founder Farmoo Fruits,  sebuah usaha perkebunan Pepaya Calina, atau biasa dikenal dengan sebutan Pepaya California. Setelah mendaftarkan diri dan melalui tahap seleksi secara online, Rohmat Syahru berhasil mengantongi tiket mengikuti audisi The Marketeers Youth Start Up Icon 2013 Kota Yogyakarta bersama 23 kontestan lainnya yang sudah disaring lebih dari 88 pendaftar. Berikut adalah wawancara dengan panitia The Marketeers Start Up Icon 2013  sebagai bukti lolos seleksi untuk mengikuti The MarketeersYouth Start Up Icon 2013.

Petani Pepaya Harus Bisa Go Global

Petani Pepaya Harus Bisa Go Global

Sebuah ide terkadang terasa menjadi tidak masuk akal karena adanya sebuah opini. Padahal belum tentu ide itu tidak bisa menjadi sebuah kenyataan jika dijalankan dengan benar.

Rasanya itulah yang dilakukan Rohmat Syahru, Pemilik Farmoo Fruits. Pertama kali, pria yang berdomisili di Yogyakarta mendapatkan cemoohan ketika ingin menanam Pepaya California. Kondisi kian memburuk, ketika Rohmat mengalami gagal panen di enam bulan pertama.

Namun dengan tekad yang bulat, kondisi pun berubah. Rohmat bahkan menjadi salah satu trendsetter di antara petani Pepaya California di daerahnya. Lantas seperti apa kisah Rohmat? Pria ini menyampaikan suka dukanya membudidayakan Pepaya California kepada Marketeer dalam rangka audisi Marketeers Youth StartUp Icon 2013:

Apa yang menjadi latar belakang dari bisnis yang Anda dirikan?

Lahan pertanian biasanya hanya ditanami padi dalam setahun. Kemudian seorang PPL dari Kecamatan memperkenalkan pada kami sebuah varian baru pepaya bernama “Pepaya California”. Saya dan keluarga merupakan perintis penanaman pepaya ini. Di saat tetangga lain meragukan apakah buah ini akan laku atau tidak, kami tetap menanam.

Pada 6 bulan pertama kami gagal panen karena pepaya California terkena virus. Buah membusuk sudah sejak dari pohonnya. Warga pun mulai mencemooh, “Wah.. buahnya busuk ya, Mas? Mending ditebang aja mas, ditanami singkong, hasilnya bisa lebih banyak”.

Selama 6 bulan kami mendapat cibiran seperti itu. Alhamdulillah, setelah itu, saat musim kemarau datang, buah kami mulai membaik. Pembeli pun datang silih berganti. Tetangga yang dulu mencemooh kini ikut menanam.

Apa pencapaian yang telah berhasil Anda raih?

Pencapaian yang sudah didapat ialah kini warga di Desa Karanggude Kulon, Kecamatan Karanglewas, Banyumas, Jawa Tengah sudah mulai menanam. Pendapatan warga pun membaik karena pepaya California bisa dipetik setiap seminggu sekali, tidak seperti padi dan singkong yang harus menunggu lama sampai dipanen.

Pasar kami saat ini meliputi daerah lokal yaitu Purwokerto, Ajibarang, Brebes, dan Tegal. Pernah beberapa kali juga mengirim ke Jakarta. Saat ini permintaan dari luar kota seperti Bandung, Jakarta, dan Bali kami tolak karena kurangnya kapasitas produksi.

Apa yang sudah Anda lakukan bagi masyarakat sekitar Anda?

Saat ini kami sedang mengajak warga di sekitar desa untuk ikut menanam pepaya. Hasil dari budidaya pepaya cukup menjanjikan. Permintaan dan harga jualnya pun terus melonjak. Saat ini penanaman pepaya di desa kami semakin meningkat. Warga yang biasanya menjadi buruh di kota pun bisa fokus bertani karena pendapatan dari budidaya pepaya California sudah cukup untuk keperluan sehari-hari, bahkan bisa untuk ditabung.

Apa yang menjadi motivasi Anda dalam mengikuti Marketeers Youth StartUp Icon 2013?

Saya ingin sekali memperkenalkan pada masyarakat yang lebih luas lagi mengenai potensi budidaya pepaya California ini, apalagi di daerah Purwokerto dan Banyumas, di mana tanah di lereng Gunung Slamet ini begitu subur. Sayang kalau cuma ditanami singkong atau padi yang kadang dibeli dengan sistem ijon sehingga petani merugi.

Saya juga ingin mengajak warga yang bukan petani, yang tidak memiliki lahan untuk tetap dapat mengolah pepaya California. Caranya dengan mengolah pepaya menjadi bahan makanan olahan, entah itu manisan, selai, atau keripik. Sehingga tidak hanya petani yang untung, melainkan warga yang tidak punya tanah pun bisa mendapat manfaat dan memperoleh keuntungan.

Selain itu, pepaya California juga merupakan buah asli dalam negeri, hasil pemuliaan dari IPB. Jadi ini merupakan kewajiban kita untuk membudidayakannya dan menjadi tuan rumah di negeri sendiri. Jangan sampai kalah dari pepaya impor dari Thailand dan Malaysia.

Apabila warga di desa sudah mendapat penghasilan yang baik dari bertani, maka warga tidak perlu merantau ke kota, apalagi Jakarta. Dengan begini, pembangunan pun akan berorientasi ke desa. Tidak melulu di kota.

4 Comments

Filed under Cerita Pribadi

4 responses to “Petani Pepaya California Purwokerto Lolos Audisi The Marketeers Young Start Up Icon 2013 Kota Yogyakarta

  1. Keren, Mamet…
    Semoga semakin semangat menebar manfaat🙂
    Barakallahu fik.. aamiin

  2. durory muhammmad

    mas mamat,mo tanya nih,,,,,,,,,,,ada ga obat atau penangkal virus pd pohon pepaya california? (pohon rusak,di awali dari batang daun yg layu seperti terbakar,kemudian tak lama berselang pohonpun mati.) parahnya,bila 1 pohon telah terserang, dlam waktu yg relatif singkat,menyebar ke seluruh pohon pepaya yg lain sampai habis

Silakan tinggalkan pesan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s