The Falling Leaf Doesn’t Hate The Wind

Daun yang jatuh tak pernah membenci angin. Begitulah terjemahannya. Kalimat ini pertama kali dipopulerkan dalam film Jepang berjudul Zatoichi. Di Indonesia, kalimat ini dipopulerkan oleh novelis bernama pena Tere Liye.

Bahwa lepasnya daun dari tangkai karena angin adalah keniscayaan. Tidak bisa disangkal. Tidak bisa dilawan. Daun begitu rela ia terlepas.

Pun manusia. Dimana ada kelahiran, disitu ada kematian. Ketika seseorang hadir dalam kehidupan, maka harus disadari pula bahwa suatu saat ia akan pergi. Karena memang itulah sejatinya. Manusia hidup tidak bermodalkan apa-apa. Lahir dalam keadaan telanjang. Mati dalam keadaan telanjang pula (hanya dibungkus kain mori dan disumpal kapas pada lubang-lubang disekujur tubuhnya). Hanya amal baik yang akan dibawa menghadap Rabb-nya.

Manusia harus adil kepada dirinya. Engkau harus percaya bahwa semua yang ada di dunia hanyalah titipan. Iya. Manusia sebetulnya tidak memiliki apa-apa. Ayah dan Ibu, ataupun anak. Itu juga bukan milikmu. Iya memang benar engkau dilahirkan lewat Ibu dan Bapak. Namun itu cuma perantara saja, tidak lebih. Begitu pula anak-anakmu. Dia bukan milik si orang tua. Anak hanya numpang lahir. Setelah itu, kehidupannya adalah milik dia sendiri.

Manusia yang tidak bisa melepaskan kepergian seseorang sesungguhnya ia telah egois. Bagaimana tidak, kepergian seseorang memang sudah jadi takdir, kenapa harus tak rela? Kenapa harus menangis? Artinya kita melawan kehendak Tuhan.

Hidup itu harus adil. Kalau engkau mau menerima hangatnya mentari, maka engkau juga harus siap didera dinginnya angin dan hujan. Bila kau berani memetik mawar yang indah, maka kau juga harus siap jarimu tertusuk duri. Itulah hidup yang adil.

Kematian yang datang, yang merenggut orang yang engkau sayang, adalah urusan Dia. Terserah Dia mau mengambil kapan. Lah kan memang semuanya milik Dia. Sekali lagi, engkau ini tidak memiliki apa-apa. Tidak akan ada satu barang apapun dari dunia ini yang akan kau bawa mati. Hanya amal yang akan kau bawa. Amal baik dan amal buruk. Semuanya sudah tercatat rapi oleh buku yang ditulis malaikat yang duduk di kedua pundakmu. Malaikat yang tidak pernah tidur. Malaikat yang tidak pernah lelah, lapar, mengantuk, mengeluh, bernafsu, haus, dan lainnya.

Maka, ikhlaskanlah apa yang seharusnya pergi. Semakin engkau menahan maka semakin pula engkau akan merasa sakit. Toh ia yang pergi tidak benar-benar pergi. Ia masih ada, menempati relung paling dalam, bernama kenangan. Untuk ia yang telah pergi, satu hal yang bisa kau lakukan adalah berdoa. Mendoakan kebaikan untuknya, dan juga kebaikan untukmu sendiri. Tujuannya supaya kelak bisa dipertemukan lagi dalam kehidupan yang abadi.

Terima kasih.

Leave a comment

Filed under Cerita Pribadi

Silakan tinggalkan pesan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s