Partie de l’histoire courte 1

“Boleh kugandeng tanganmu?”, ucapku lirih.
“Kenapa harus kamu tanyakan itu? Gandeng saja!”.
“Kenapa malah diam?”, ia menggamit jemariku, menarikku ke dalam ruangan.

Aku terdiam dan tersadar, percakapan itu hanya ada dalam hati.

“Hey, Mas. Kenapa kamu berhenti?”, ia menoleh padaku ketika tahu langkahku terhenti.
“Oh.. Iya. Maaf”.
“Makanya jangan melamun terus..”, katanya sedikit mengejek.

Kita berjalan menyusuri rongga-rongga galery. Menikmati pajangan yang disebut dengan seni. Hasil karya manusia-manusia yang entah berapa IQ-nya. Di ruangan ini, aku ingin merapatkan segala apa yang ada. Menggandeng tanganmu, duduk berdua di tengah pikuknya orang-orang. Bercerita masing-masing, tentang mimpi-mimpi yang hendak kita capai. Tentang sekumpulan orang yang lalu lalang di kepala. Tentang lelahnya aktifitas kita sepanjang hari. Tentang engkau dan aku.

“Kenapa kamu tahu kalau aku suka seni?”, katanya membuka percakapan.
“Entah. Aku tahu saja”.
“Pasti kan ada alasannya kenapa bisa tahu”, kata-katanya mulai sedikit manja.
“Apakah kamu benar-benar ingin tahu jawabanku?”.
“Iya, donk”.
“Kalau sudah tahu jawabannya, lantas apa?”.
“Ya, ingin tahu saja, memangnya tidak boleh?”, mukanya sedikit cemberut.

Melihatnya mulai kesal, aku pun menyerah mempermainkannya.

“Begini, dulu aku pernah melihatmu di event jazz. Aku menebak, kamu juga mestinya suka dengan hal begini. Orang yang menyukai musik jazz biasanya juga suka dengan sesuatu berbau seni. Jazz itu peminatnya terbatas, begitu juga dengan pameran ini.”

“Apakah semudah itu mengetahui kesukaan seseorang?”, ia bertanya.
“Tidak juga. Mungkin saja aku pas beruntung, tebakanku benar”.
“Kalau begitu aku termasuk orang yang istimewa donk buat kamu?”.
“Kenapa begitu?”.
“Karena bisa tahu kesukaanku”, ia tersenyum. Puas menggombaliku.

Aku pun tertawa kecil. Pintar benar wanita ini mempermainkan pikiranku.

Ia berjalan menuju ruang gelap saat aku asik melihat koleksi foto dari fotografer kenamaan Indonesia. Foto orang-orang orang bantaran kali, para korban banjir, serta anak kecil yang ingusnya meler sampai ke bibirnya begitu menggugah hati. Aku menjadi berpikir, apa yang sudah aku berikan kepada kemanusiaan. Melihat anak kecil mengamen di pinggir jalan –yang entah apa alasannya, aku kadang begitu acuh. Bagaimana bila hal itu menimpaku?

Melihatnya tak keluar dari ruang gelap tersebut, aku menyusul ke dalam. Aku melihatnya tepekur disana, di depan sebuah monitor. Melihat ia di dalam lorong gelap, hanya mukanya yang tersorot lampu monitor, aku tersenyum. Aku ingin lebih lama lagi disini.

 

Leave a comment

Filed under Cerpen

Silakan tinggalkan pesan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s