Partie de l’histoire courte 2

“Aku mau ambil kue, kamu mau kuambilkan sekalian?”, tanyaku padanya sambil bangkit berdiri.
“Boleh..”, jawabnya sambil menoleh tersenyum.

Aku beranjak pergi. Matanya kembali tertuju pada pemain disc jokey di panggung. Orang-orang sedang antri mengambil kue dan jus di meja. Di dekat tangga beberapa orang asing sedang asik bercakap-cakap. Di sudut yang lain, orang-orang duduk berjejer di sebuah kursi panjang –dari penampilannya sepertinya mereka seniman. Menikmati kue kecil dan bercakap sambil tertawa, sibuk dengan dunia mereka sendiri.

Melihatku kembali, ia menoleh. Beberapa potong kue dan segelas jus aku letakkan di atas meja.

“Bahagia rasanya bila kita mampu hidup seperti mereka”, matanya menebar pandang pada kumpulan seniman di sudut ruangan.
“Hidup bebas tanpa tergantung pada keputusan orang lain”, tambahnya.

Kulihat ada rasa iri di hatinya. Sebuah pemberontakan diri dari sesuatu yang aku sendiri juga belum tahu.

“Menurutmu, seniman itu memiliki agama atau ngga sih?”, tanyanya sambil mengunyah kue.
“Menurutku punya, meski hanya agama KTP”.
“Mereka minum bir, berpakaian bebas, menindik kuping, berambut gimbal, apa di agama mereka mengajarkan seperti itu?”, pertanyaannya mulai kritis.
“Memang benar kalau agama itu diciptakan Tuhan untuk membatasi perilaku manusia agar tidak semaunya sendiri. Namun Tuhan juga Maha Demokratis. Tuhan membebaskan manusia untuk memilih jalan hidupnya sendiri. Mau piliha agama A, agama B, agama C, atau bahkan memilih tidak beragama. Mau jadi PNS, mau jadi pegawai, jadi pengusaha, seniman, atau bahkan pembunuh, Tuhan membebaskan semua pilihan itu kepada manusia. Tuhan sudah memberikan SOP berupa kitab suci, perkara mau dilaksanakan atau tidak itu urusan manusia.”

Dahinya berkerut, mungkin jawabanku belum memuaskan hasrat keingintahuannya. Melihat mukanya terlalu serius, aku beranjak ke rak buku. Memilih beberapa buku yang enak untuk dibaca.

“Buku adalah sahabat terbaik untuk berbagi masalah. Ia mampu mendengar jeritan hati kita, apapun masalahnya. Ketika emosi kita meluap-luap ia juga tidak akan marah. Ia juga tidak akan gusar ketika ia kita tinggalkan tanpa pamit. Tidak akan berteriak meski halamannya kita lipat. Dan tidak akan setengah hati menerima meski sudah lama kita tinggalkan.”, aku berceramah layaknya kyai yang bangun kesiangan.

Ia mulai asik membaca buku. Begitu pun aku. Semakin tenggelam.

Leave a comment

Filed under Cerpen

Silakan tinggalkan pesan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s