Resensi Buku: Pramoedya Ananta Toer – Jejak Langkah

Ini roman seri ketiga dari Tetralogi Buru karya Pramoedya Ananta Toer. Roman yang pertama berjudul Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah, dan yang terakhir Rumah Kaca. Tetralogi ini mengambil latar awal abad 20, ketika Indonesia (saat itu masih bernama Hindia) membangun cikal bakal kemerdekaan melalui organisasi.

Tahun 1901. Minke baru saja selesai dari perkaranya di Surabaya. Meskipun ia dan mertuanya, Nyai Ontosoroh telah kehilangan segalanya. Mereka tidak menyerah. Mereka mengumpulkan tenaga lagi. Nyai Ontosoroh memulai usahanya lagi dari awal. Dan Minke memenuhi panggilan Gubernur Jendral Hindia Belanda, bersekolah di STOVIA (School tot Opleiding van Inlandsche Artsen, Sekolah untuk Pendidikan Dokter Pribumi). Meskipun terlambat masuk sekolah, Minke mampu mengejar ketertinggalannya dalam hal pelajaran, salah satunya berkat bantuan dari sahabat barunya, Partotenojo. Berbeda dengan Partotenojo yang apabila diganggu ia diam saja, tidak dengan Minke. Ia melawan para peranakan Indo (sebutan untuk keturunan Eropa di Hindia) dan Eropa. Bahkan berkelahi pun Minke lakukan. Akhirnya para pengganggu tersebut berhenti mengganggu ketika diketahui pada suatu malam Minke diundang dalam sebuah pertemuan pembesar-pembesar Hindia Belanda di De Harmonie.

Minke berkenalan dengan seorang ibu asuh, Bu Badrun namanya. Kesanalah ia pergi ketika merasa kesepian di sekolah sewaktu akhir pekan. Minke teringat pada surat titipan mendiang sahabatnya yang berasal dari Tiongkok, Khouw Ah Soe, yang harus ia berikan kepada seorang wanita di Betawi. Akhirnya Minke pun menuju kawasan Kwitang, kawasan yang banyak dihuni orang-orang peranakan Cina. Disanalah ia bertemu Ang San Mei, wanita yang ditengarai tunangan dari Khouw Ah Soe. Sejak pertemuan itu, Minke mulai jatuh cinta padanya. Perlahan bayangan Annelies Melemma pun digantikan Ang San Mei. Tidak menunggu lama, mereka berduapun akhirnya menikah.

Ang San Mei adalah wanita sipit yang berkulit putih oriental. Bersama Ang San Mei, Minke kembali mulai menulis untuk koran. Di dalam pernikahan itu pun akhirnya Minke tahu bahwa Ang San Mei adalah seorang aktivis pelarian dari Cina yang sedang membangun kekuatan untuk merobohkan dinasti lama yang semakin korup. Mei lah yang mengajari Minke untuk membangun organisasi. Organisasi untuk mencerdaskan rakyat dan menumbangkan penjajah. Namun takdir berkata lain, kesibukan Mei dalam mengurus organisasi Cinanya itu membuatnya menderita hepatitis. Mei pun meninggal. Kembali Minke ditinggalkan untuk yang kedua kalinya oleh istrinya. STOVIA pun memutuskan: Minke dipecat dari sekolah. Kesalahannya karena ia terlalu sering membolos sekolah dan juga nilai-nilainya yang merosot. Minke pun dikenai ganti rugi biaya sekolah yang selama ini ia pakai, tidak tanggung-tanggung, 2.970 gulden, cukup untuk membeli dua buah gedung besar dan megah beserta perabotnya. Minke mendapat cobaan yang sangat bertubi.

Minke bangkit setelah kematian istrinya. Hutang kepada sekolah telah ia bayar dengan menggunakan uang dari mertunya, Nyai Ontosoroh. Setelah semuanya lunas, Minke mulai membuka kembali berkas-berkas yang dulu pernah Mei ajarkan. Ya, tentang organisasi. Hanya dengan organisasilah rakyat bisa dibuat melek matanya. Dan para penjajah itu harus dilawan, dengan perlawanan.

Tahun 1906. Minke dengan bantuan seorang priyayi, Thamrin Mohammad Thabire, berhasil mendirikan organisasi pertamanya Syarikat Priyayi.

Syarikat Priyayi pun mengumpulkan modal dari para anggotanya. Uang yang terkumpul lantas dibuatkan perseroan, sebuah koran mingguan milik pribumi pertama, Medan. Medan menerbitkan berita tentang penyuluhan hukum dan peraturan. Tujuannya supaya para priyayi lebih melek hukum dan tidak mudah ditindas oleh kompeni. Oplah Medan pun semakin meningkat. Banyak orang yang membacanya. Efeknya begitu terasa di masyarakat.

Pada suatu waktu, mertuanya dari Surabaya datang. Ternyata Nyai Ontosoroh dan Jean Marais, sahabatnya, telah menikah. Dibawanya pula Maysaroh Marais. Mereka bertiga rupanya akan pergi ke Prancis dan tinggal disana. Maysaroh yang sudah berumur 17 tahun pun hendak dijodohkan dengan Minke oleh mertunya. Minke mau, tetapi Maysaroh menolaknya, ia masih ingin banyak belajar di Prancis. Alhasil, Minke pun dengan terpaksa masih menahan dudanya lagi.

Medan semakin membesar. Mengingat begitu pentingnya untuk mencerdaskan bangsanya, belum lagi tulisan-tulisan Minke yang dilarang dimuat di koran kolonial, membuat Minke bertekad bulat. Ia harus mendirikan hariannya sendiri. Harian pribumi. Harian Medan berdiri, menggunakan nama saudara tuanya. Harian tersebut semakin berkembang di masyarakat. Medan memuat tulisan-tulisan dari akar rumput, berupa penindasan oleh para kolonial pada para petani.

Munculah organisasi baru, yang lebih terbuka, yang tidak terperintah Hindia Belanda. Namun hanya beranggotakan orang Jawa, Boedi Oetomo namanya. BO berkembang cukup pesat, berhasil didukung oleh pedagang-pedagang pribumi yang terkenal pelit sebelumnya. Sewaktu kongres BO di Yogyakarta, Minke bertemu dengan Hadji Moeloek, Indo yang memiliki cukup kedekatan dengan pembesar gula, namun lebih mencintai bangsanya.

Minke bertemu dengan seorang raja dari Kasiruta bersama putrinya, Prinses van Kasiruta, dimana mereka dibuang di bumi Priangan. Minke bertemu dengannya sewaktu perjalanan Bandung – Buitenzorg. Minke pun jatuh cinta untuk yang ketiga kalinya. Tidak butuh waktu lama, Minke pun memperistrinya, setelah melalui sebuah serangkaian drama, yang mana menjadikan dirinya dilamar oleh sang raja. Minke masih cukup hidup berbahagia, sebelum ia mengetahui, setelah menunggu beberapa tahun, ternyata dirinya mandul.

Minke semakin pusing. Terlepas dari urusan pribadinya itu, Minke merasa ia lebih dibutuhkan oleh sebangsanya. Maka ia pun berfokus untuk pengembangan Syarikat. Dalam pekerjaannya di Bandung ternyata Minke sudah diincar akan dicelakai oleh musuh lamanya, Robert Suurhof. Namun ternyata, diam-diam istrinya melindunginya, bahkan membunuh para pelaku pengincar tersebut. Minke baru tahu, bahwa istrinya bukanlah wanita sembarangan.

Lama-lama Syarikat Priyayi mengalami kemunduran. Dikarenakan organisasi ini terlalu eksklusif hanya menampung aspirasi dari para priyayi, sedangkan mereka yang di akar rumput tidak. Priyayi yang sejatinya sudah hidup makmur, pun makin acuh pada Syarikat. Akhirnya Syarikat Priyayi pun mengalami kemerosotan.

Didirikannya lagi organisasi baru S.D.I (Syarikat Dagang Islam). Namun, organisasi ini juga tidak lama kemudian mengalami perpecahan. Perbedaan pendapat menjadi penyebabnya. Minke memimpin sendiri organisasi yang pecah itu, dibantu dengan Medan.

Setelah Medan dan SDI semakin berkembang, Minke mulai mendelegasikan pekerjaannya kepada orang-orangnya, Sandiman, Wardi, Marko, dan lainnya. Minke akan lebih fokus pada propaganda. Penyadaran kepada rekan-rekan sebangsa yang senasib, Hindia Raya. Ia akan mulai melakukan kunjungan ke Singapura, Filipina, Malaysia, dan sebagainya. Sebelum Minke dan istrinya berangkat, terlebih dahulu Prinses van Kasiruta berpamitan ke Sukabumi untuk bertemu bapaknya. Ia kabulkan.

Takdir berkata lain. Beberapa hari setelah pendelegasian, Medan terkena musibah. Medan telah memuat berita yang menggemparkan, ia menghinakan Gubernur Jendral. Akhirnya Medan pun dipretel. Minke? Minke dimasukkan dalam bui.

– END –

Leave a comment

Filed under Sosial

Silakan tinggalkan pesan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s