Partie de l’histoire courte 4

“Kenapa kamu memandangku seperti itu, Mas?”, tanyamu.
“Bukan salahku”.
“Lalu, kamu anggap aku yang salah?”.
“Iya, kamu yang salah”.
“Kok gitu, Mas?”.
“Iya. Salahmu adalah kenapa kamu terlahir begitu menarik”.
“Sudah berapa banyak wanita yang luluh dengan kata-katamu itu, Mas?”.
“Sudah berapa banyak lelaki yang kamu tetak hatinya dengan pertanyaanmu tadi?”.

Diam datang menyelimuti. Mungkin ada waktu 1 jam kami tepekur disana. Tidak se-selama itu juga sebenarnya, mungkin hanya barang semenit.

“Kenapa kamu tersenyum, Mas? Ada yang lucu?”, tanyamu.
“Ngga. Aku sedang mencoba menikmati ingatan masa-masa laluku yang lucu”.
“Ceritain donk, Mas. Aku ingin dengar”.
“Tidak sekarang”.
“Ahh.. Mas ngga asik”.
“Akan aku ceritakan semua tentangku, tapi tidak di galery ini. Bagaimana kalau kita ke Musee Du Louvre?”.
“Ahh.. Tempat apalagi itu, Mas?”.
Musee Du Louvre adalah museum terbesar di dunia, begitu kata orang. Letaknya ada di Paris. Disanalah lukisan Monalisa terpasang, bersama ribuan benda seni dari zama prasejarah. Disana juga, sungai Seine yang membelah Paris itu tinggal”.
“Aaaa.. Aku mau Mas”. Matamu mulai berkaca-kaca.

Mungkin itulah malam pertama kali sebuah impian dirajut  bersama. Menuju Paris, tempat yang sama sekali asing. Mendengar dan membaca beritanya pun kebanyakan dari televisi dan internet. Untungnya, bermimpi itu tidak dipungut biaya. Tinggal bagaimana caranya mewujudkan mimpi tersebut.

Paris. Kota itu terlintas begitu saja dalam pikiran. Mungkin percakapan kita mengenai  kebebasan-lah yang membawa imajiku menuju kesana. Perancis-lah, tempat pertama yang mulai mengagung-agungkan paham: Liberte – Egalite – Fraternite, atau biasa dikenal dengan kebebasan, persamaan, persaudaraan. Karena sesungguhnya, setiap manusia itu sama derajatnya. Kadar iman dan manfaat bagi kehidupanlah yang membedakannya.

Bukankah tadi kita baru saja membicarakan tentang kebebasan yang dimiliki para seniman?
Manusia-manusia bebas yang berkarya tanpa perlu takut pada cemoohan orang.
Ahh.. Kita memang perlu benar-benar kesana.
Minimal mencari tahu, sosok seperti apa yang melahirkan paham kebebasan tersebut.
Bonusnya, mungkin kita bisa menikmati indahnya Paris.
Menara Eiffel, Arc de Triomphe, Place de la Concorde, 
atau juga kita bisa jalan-jalan mengelilingi kampus Universitas Sorbonne.
Kapan kita akan mewujudkannya?

“Bagaimana kalau kita kesana tahun 2016, Mas?”.

Bagaimana ia bisa tahu pertanyaan dalam batinku?

“Mas…”, ia mengeraskan suaranya. Memecah lamunanku.
“Kamu yakin?”.
“Kenapa ngga?”.
“Studimu?”.
“2016 adalah batas selesainya studiku. Boleh aku minta sesuatu?”.
“Apa?”.
“Bantu aku supaya Paris bisa menjadi kado kelulusanku”.
“Kenapa ngga…”.
“Mari bersalaman, Mas!”.
“Untuk apa?”.
“Menyepakati janji kita lah”.

Kami pun bersalaman.

“Mas, aku minta kertas donk. Bawa bolpoin juga kan?”, pintanya padaku.
“Buat apa?”.
“Sudah, sini cepat!!”, kamu sudah mulai bisa memerintahku.

Engkau mulai menuliskan sebuah catatan.

“Ayo, Mas. Kita baca bareng-bareng”, pintamu lagi.

Baiklah, aku menurut.

5 Juni 2013,
Ada sebuah janji diantara dua orang sahabat,
Menyepakati sebuah mimpi,
Dan berjanji untuk mewujudkannya.

5 Juni 2016,
Kita akan bertemu disana, bagaimana pun caranya.
Mungkin setelah ini kita akan sibuk mengejar impian masing-masing,
Namun, ingatlah impian kita bersama,
Janji bertemu di Musee Du Louvre.

Yogyakarta,
Kamu dan aku.

“Simpan baik-baik ya, Mas, catatan ini. Mungkin tulisanku jelek, tapi biarlah. Bila salah satu dari kita nanti tidak mampu mewujudkannya, maka akan kewajiban mutlak bagi yang lainnya. Bukan karena takut pada azab Tuhan. Tapi marilah kita mulai menghargai janji kita pada impian-impian kita sendiri. Bila salah satu dari kita nanti tetap tidak mampu mewujudkan, maka anak cucu kita yang akan mewujudkannya, anakmu maupun anakku, atau bahkan anak-anak kita. Bila nanti kita berdua sama-sama tidak memiliki keturunan, maka akan kita bangun Musee Du Louvre kita sendiri di surga”.

Rupanya, engkau sudah mulai adil, bahkan sejak dalam pikiran. Engkau mulai bijak, bahwa segala hal dalam hidup bisa saja terjadi. 

Kami meneguk lagi minuman di atas meja. Jam dinding menunjukkan pukul 20.30. Malam masih panjang.

Leave a comment

Filed under Cerpen

Silakan tinggalkan pesan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s