Desa Mandiri Untuk Kemandirian Bangsa

Desa adalah struktural terbawah yang diakui dalam sistem administratif pemerintahan Republik Indonesia. Dimulai dari negara, provinsi, kabupaten, kecamatan dan terakhir desa. Memang di beberapa tempat ada yang namanya dusun, kampung, banjar, atau jorong –istilah untuk pembagian wilayah di bawah desa, namun yang diakui tetaplah desa. Desa sendiri dipimpin oleh seorang kepala desa. 

Desa sebagai struktur administratif terbawah menjadi pondasi utama perekonomian Indonesia. Segala hasil bumi, hutan, ikan –baik ikan air tawar maupun laut, semua dihasilkan dari desa. Desa sesungguhnya sudah memiliki kekuatan tersendiri untuk memakmurkan warga masyarakatnya. Namun yang terjadi sekarang, banyak pengangguran justru berada di pedesaan. Karena menganggur, akhirnya mereka mencari pekerjaan di kota, dan terjadilah urbanisasi. Kota yang memiliki keterbatasan akhirnya pun penuh dan jenuh. Lagi-lagi lapangan kerja tidak sebanyak yang dibutuhkan. Masalah sosial pun timbul. Dari mulai pengamen, pengemis, pemukiman kumuh, bahkan penodongan, penjambretan, hingga perampokan yang berujung pembunuhan.


Desa dengan jumlah masyarakat yang lebih sedikit, dengan potensi hasil bumi yang besar sebetulnya bisa dikembangkan menjadi pusat perekonomian. Beberapa pemikiran saya, setelah membaca banyak literatur, terkait kegiatan perekonomian di desa yaitu:

  1. Usaha peternakan (sapi, kambing, ayam, bebek, perikanan, kelinci, marmut)
  2. Usaha pengolahan makanan berbahan hasil peternakan
  3. Usaha pupuk organik hasil kotoran peternakan
  4. Usaha pertanian dan hortikultura
  5. Usaha pengemasan dan pengolahan makanan berbahan hortikultura
  6. Usaha pembuatan pupuk kompos dari hasil limbah hortikultura
  7. Usaha distribusi hasil bumi dan hasil peternakan
  8. Usaha desa wisata
  9. Dan berbagai usaha jasa lainnya.

Keunggulana warga masyarakat desa adalah mereka memiliki kedekatan sosial yang jauh lebih baik daripada masyarakat kota. Mereka mampu mengingat nama, bahkan hampir setengah dari seluruh warga masyarakat di dalam satu desa tersebut. Karena kedekatan sosial itulah, sebenarnya usaha apapun, dijual di dalam desa pun sudah mencukupi. Kemandirian desa juga bisa diwujudkan dengan beberapa hal, diantaranya:

  1. Pembuatan pembangkit listrik mandiri dari sungai
  2. Penyaluran biogas hasil dari peternakan
  3. Pembuatan bank sampah organik

Di dalam desa mandiri, hasil bumi dan jasa dari warganya boleh diangkut ke luar desa. Imbal baliknya, desa akan mendapatkan pemasukan berupa uang. Sedangkan warga yang ingin membelanjakan uangnya, diharapkan tidak membeli dari luar desa lain, cukup dengan membeli kepada warga lainnya. Hal ini akan membuat uang berputar di desa tersebut. Mirip sekali dengan sistem ekspor-impor di negara kita. Sebisa mungkin kita harus menjual barang kita ke luar negeri, namun sebisa mungkin juga kita memanfaatkan produk dari dalam negeri. Impor boleh, tapi jangan terlalu banyak. Karena efeknya akan mengurangi devisa yang ada.

Prinsip ekspor-impor semestinya bisa dilakukan di dalam sebuah desa. Dengan begitu, desa akan terpacu untuk menghasilkan produk yang lebih baik. Apabila ada desa lain yang menghasilkan produk serupa, maka persaingan akan terjadi. Nah disinilah nilai positifnya, dengan persaingan maka masing-masing pihak akan berusaha menghasilkan produk yang lebih baik dan memiliki value lebih tinggi. Akhirnya, masyarakat sebagai konsumenlah yang diuntungkan. Bukan tidak mungkin, apabila desa mampu dikelola dengan baik, terutama oleh pemerintah –dan warganya pun ikut aktif terlibat, warga yang menganggur tidak perlu merantau ke kota. Cukup bekerja di desa dan mengembangkan desanya.

Saat ini ada banyak sekali program dari pemerintah maupun swasta yang melibatkan para sarjana untuk kembali ke desa. Ada program yang namanya Sarjana Bangun Desa. Program ini baik sekali, sarjana yang sudah memiliki kecakapan berpikir memang sudah seharusnya diterjunkan ke masyarakat untuk menyelesaikan problem-problem yang ada. Seorang sarjana tidak melulu harus kerja kantoran, kerja di pabrik atau perusahaan, dengan gaji selangit. Seorang sarjana akan jauh lebih mulia apabila mereka mau memberikan sumbangsih yang baik bagi warga masyarakat di desa. Itu menurut pemikiran saya.

Apabila di struktur yang paling bawah –yaitu desa itu sendiri, sudah terjadi kemandirian. Maka struktural di atasnya akan menyesuaikan. Hingga di level teratas, yaitu negara, kemandirian bangsa pun bisa dibentuk. Kita tidak perlu lagi harus bergantung pada negara lain. Kalau bisa diproduksi di negeri sendiri, kenapa harus membeli dari orang lain🙂

Leave a comment

Filed under Sosial

Silakan tinggalkan pesan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s