Faktor X – Sebuah Catatan Perjalanan Malam di Kartasura

Malam itu, Rabu 12 Juni saya bersama sahabat-sahabat berkunjung ke Kartasura. Mengunjungi salah seorang kenalan yang memiliki usaha di bidang meubel. Usaha meubel tersebut bisa dibilang besar, bahkan sudah menembus pasar ekspor. Letak outlet-nya berada di persimpangan yang sangat ramai, di depan bundaran Kartasura. Tidak perlu saya sebutkan nama tokonya, kalau Sahabat berkunjung ke Kartasura pasti bisa melihatnya. Persis di depan bundaran –sayangnya, saya tidak tahu nama bundarannya.

Pemilik usaha tersebut, Om X memulai usahanya sebelum tahun 2000. Tahun 1998 nasib berkata lain, usahanya gulung tikar karena kerusuhan. Seluruh isi tokonya dibakar oleh para perusuh. Barang yang berada di toko –yang belum dibayar, ludes terbakar. Om X bingung harus membayar hutangnya pakai apa. Dengan berbekal tekad, ia mulai meyakinkan para kreditur bahwa ia pasti akan melunasi hutangnya. Namun, ia butuh waktu. Para kreditur menyetujui, dan mulailah Om X bekerja keras lagi. Ia mulai bekerja, mengumpulkan modal, membangun kembali usahanya hingga pada pencapaian seperti sekarang.


Om X memiliki sebuah prinsip, yang mungkin bisa kita tiru. Bahwa baginya, karyawan adalah customer utama yang mesti diperhatikan pertama kali, sebelum ia memperhatikan customer kedua, yaitu pembeli barang. Ia punya sebuah kata bijak: Bahagiakan mereka yang dekat, maka yang jauh akan datang mendekat dengan sendirinyaPerkataan tersebut banyak benarnya. Apabila kita ingin menarik pembeli yang banyak maka kita perlu memberikan kenyamanan kepada karyawan kita. Tidak lain, kenyamanan akan menjadikan mereka sebagai perpanjangan tangan marketer perusahaan. Apa jadinya, bila karyawan tidak berbahagia dan tidak nyaman di perusahaan, niscaya mereka tidak mereferensikan produk-produk di perusahaannya.

Om juga mengajarkan bahwa menjadi manusia itu: Ojo rumongso biso, tapi biso’o rumongso. Bila diartikan akan menjadi begini: Jangan merasa serbabisa, tapi bisalah merasa. Jangan merasa engkau serbabisa dan meremehkan orang lain. Tidak, jangan seperti itu. Tapi jadilah orang yang bisa “merasa”. Merasa bahwa dirinya masih belum apa-apa. Masih perlu belajar dari orang lain, dari lingkungan dan dari siapapun. “Merasa” bahwa dirinya tidak ada apa-apanya bila dibandingkan dengan kekuasaan Alloh SWT.

Pelajaran terakhir, The future depends on what we do in the present (Gandhi). Masa depan bergantung pada hal apa yang kita lakukan saat ini. Masa depan tidak diciptakan dengan mudah, namun perlu dipersiapkan dari sekarang. Ingat, bahwa buah yang baik berasal dari benih dan induk yang baik pula. Kecil kemungkinan, apabila saat ini biasa-biasa saja lalu menginginkan yang baik di masa depan. Terlepas dari adanya keberuntungan yang Alloh berikan.

Jadi, ketiga hal tadi bisa menjadi referensi kita untuk menjadi insan yang lebih baik. Meraih sukses memang baik, tapi akan lebih baik lagi apabila sukses yang kita raih tersebut bisa kita bagi dengan rekan-rekan di sekitar kita. Bukankah yang namanya bersama-sama selalu baik? Setidaknya, kita tidak selalu sendiri.

Leave a comment

Filed under Cerita Pribadi

Silakan tinggalkan pesan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s