Mereka Yang Menunda Taubat

Ada sebuah pohon yang sangat menganggu. Pohon tersebut berduri pada sekujur bagiannya, dari akar hingga daun. Pohon tersebut juga menebarkan aroma yang tidak sedap dan menjadi sarang bagi beberapa hewan seperti ular, kalajengking, kelabang dan hewan-hewan beracun lainnya. Pohon tersebut apabila sudah mulai tumbuh maka sebaiknya harus segera dicabut, sebelum ia tumbuh terlampau besar dan kita tidak bisa mencabutnya lagi.

Orang yang menunda taubat ibarat orang yang ingin mencabut pohon pengganggu tersebut. Tapi karena adanya duri di batang dan daunnya, si pencabut merasa sulit mencabutnya. Akhirnya ia menunda hingga esok, lusa, minggu depan, dan seterusnya. Hari berganti bulan, bulan berganti tahun, tanaman itu semakin tumbuh membesar. Hingga ketika orang tersebut menjadi tua. Ia baru sadar, pohon pengganggu tersebut sudah terlampau besar.

Jangan sampai kita merasa menyesal dan baru sadar bahwa umur kita dihabiskan untuk hal-hal yang tidak berguna, bahkan berdosa. Menunda taubat memang seperti itu adanya. “Ahh.. Besok lagi lah saya bertobat. Lagian umur saya masih muda, masih banyak waktu untuk bertaubat”. Begitu terus, sampai kita lupa bahwa umur kita terbatas, dan bisa saja sewaktu-waktu nyawa kita dicabut. Bisa saja sewaktu-waktu harta, keluarga dan segala yang kita punya diambil oleh-Nya. Dan kita baru sadar bahwa untuk menumbangkan “pohon pengganggu” tersebut kita sudah tidak punya sumber daya lagi.

Coba kalau sewaktu muda dulu pohon tersebut kita cabut. Entah dengan bantuan sarung tangan –agar duri pohon tidak melukai tangan, atau menggunakan cangkul dan mengeruknya. Ketika kita sudah menjadi tua, ketika pohon sudah terlampau besar, kita akan kesusahan memusnahkannya. Dibutuhkan kekuatan yang besar –semacam backhoe, tank tempur, gergaji mesin dan sebagainya untuk mencabut pohon tersebut. Dibutuhkan effort yang cukup besar apabila dari muda tidak terbiasa sholat, lalu ketika sudah tua dipaksa untuk sholat. Dibutuhkan tenaga ekstra apabila dari muda sudah terbiasa merokok, lalu ketika tua ingin berhenti merokok. Ya, untuk melepaskan diri dari hal yang buruk memang sebaiknya sedari muda, jangan menunggu tua.

Tips mencabut pohon pengganggu selagi muda juga selaras dengan pengerjaan skripsi. Ahh.. masih semester 7 kok, besok-besok lagi lah skripsinya saya kerjakan. Begitulah di pikirannya, hingga pada akhirnya ia sadar ia sudah menunda skripsinya selama 6 semester dan sekarang ia sudah duduk di semester 13. Tinggal menunggu 1 semester lagi hingga ia kena DO. Dibutuhkan kemauan dan kemampuan ekstra agar dalam waktu 1 semester tersebut si skripsi bisa ia taklukan.

Mumpung masih hari Senin, kerjakan tugas kuliah yang akan dikumpul hari Jum’at.
Mumpung masih duduk di semester 7. Kerjakan laporan KP, kerjakan skripsi dari sekarang.
Mumpung masih belum begitu kecanduan, hentikan merokok, mabuk-mabukan, berjudi dari sekarang.
Mumpung masih sehat, gunakan kesehatan ini untuk hal-hal positif.
Mumpung masih punya harta, gunakan untuk bersedekah, janga menunggu miskin.
Mumpung masih punya waktu luang, gunakanlah sebelum datang masa kesempitan.
Mumpung masih muda, mumpung masih punya banyak tenaga. Mari bertaubat.
Mumpung masih hidup, berbuat baiklah. Sebelum kematian datang dan kita tidak bisa berbuat kebajikan lagi.

Leave a comment

Filed under Sosial

Silakan tinggalkan pesan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s