Thinking Two Sides

Anak lanang yang baru selesai menempuh Ujian Nasional SMA ingin membeli sepatu hiking –tentunya untuk mendaki gunung, yang harganya tidak bisa dibilang murah. Merasa tidak enak untuk bicara langsung kepada bapaknya, lalu dilakukanlah jurus rayuan pulau kelapa.

“Pak, bagaimana kalau misalkan bapaknya membelikan aku sepatu hiking?”.
“Lho, bapaknya siapa?”, tanya bapaknya. “Kalau bapaknya temanmu, ya, harus bilang terima kasih”.
Anak lanang pun menjawab, “Bapakku nuw.. Huuu, bapak iki jannn…“.

Akhirnya bapaknya menjawab: “Yaaa.. biar bapak pikir dulu sambil tidur…”.

Merasa respon dari bapaknya kurang memberi kepastian alias PHP, pada kesempatan berikutnya anak lanang bicara to the point.
“Jadi membelikan sepatu, Pak?”.
Bapaknya diam serius, lalu bertanya, “Untuk apa?”.
“Ya naik gunung”, jawabnya.
“Setelah itu apa imbalan yang bisa diberikan?”, tanya bapaknya lagi.
“Lha apa yaaa? Belajar yang rajin kalau kuliah nanti, mungkin…”, jawab anak lanang diakhiri dengan kata “mungkin”.
“Iya, kalau diterima SNMPTN”, jawab bapaknya cepat, bernada canda.

Pernahkah kita berpikir, ketika kita meminta sesuatu kepada orang tua, sudah dipikirkan manfaat dan keuntungannya? Ataukah hanya permintaan karena ingin terlihat keren, terlihat up to date, tidak ingin dianggap ketinggalan jaman dari teman lainnya? Pernahkah berpikir bahwa ketika meminta sesuatu tersebut orangtua memang sedang memiliki uang di kantongnya? Pernahkah berpikir, ketika kita sudah dibelikan benefit apa yang akan kita berikan kepada orangtua sebagai bentuk imbal balik atas kebaikan mereka? Apa yang kita janjikan kepada mereka?

Perlu lah kita selalu berpikir mendalam ketika hendak meminta sesuatu, bukan hanya kepada orangtua, tetapi juga kepada bos, suami, istri, sahabat dan lainnya. Berpikirlah secara bothside. Bagaimana bila kita berada di posisi mereka dan mereka berada di posisi kita. Apakah engkau akan mengabulkan permintaan mereka? Berpikir dua sisi itu memang perlu. Dan sangat perlu.

Pendek cerita, akhirnya dibelikanlah sepatu hiking seharga emas satu gram. Dan diam-diam bapaknya jadi kepingin juga membeli sepatu hiking.

*Sharing cerita dengan seorang Sahabat

Leave a comment

Filed under Inspirasi

Silakan tinggalkan pesan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s