Pesan Untuk Anak Lanang

Hari ini (Kamis) adalah hari terakhir pelaksanaan Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri atau biasa disingkat SBMPTN. Singkatan-singkatan ini berubah setiap tahunnya. Dulu ada Sipenmaru, SPMB, SNMPTN, dan istilah-istilah lainnya, yang saya sendiri juga kurang tahu. Intinya sich sama saja –ujian masuk perguruan tinggi. Saya juga kadang heran, kenapa pemerintah berbuat seperti itu. Mengganti nama seenaknya sendiri. Tapi kalau dipikir, biasanya kalau orangtua memberi nama pada anaknya, atau mengganti nama anaknya biasanya akan mengadakan kenduri/syukuran. Mungkin itu berlaku juga bagi pemerintah, ada pergantian nama, artinya ada “kenduri”.

Pemerintah punya banyak kementrian. Tinggal dihitung saja berapa banyak kenduri yang dilakukan. Ada yang potong kambing seribu ekor, ada yang potong sapi lima ratus ekor, mungkin ada juga kali yach yang potong rekening (potong rekening disini artinya membagi-bagi rekening). Sepertinya enak ya kalau bisa memiliki jabatan di pemerintahan. Banyak kendurinya, hehehe..

Baiklah, mari kembali ke bahasan awal. Anak lanang sahabat saya, pagi-pagi di hari Selasa itu hendak mengikuti ujian SBMPTN. Karena rumahnya berada tidak jauh dari lokasi tempat tes, si anak lanang bisa bernapas lega. Bisa belajar di malam harinya, tidur dengan pulas, dan paginya sudah disediakan sarapan ketika hendak berangkat.

“Sudah siap kan, Nak?”, tanya si bapak.
“Sudah donk, Pak. Perut sudah terisi, otak pun sudah siap diperas”, jawab anak lanang sambil menunjuk-nunjuk ke dahinya.
“Bagus donk. Itu baru namanya anak lanang. Penuh percaya diri. Tapi inget jangan ke-pede-an. Nanti jadi besar kepala”.
“Iya, Pak. Itu jelas sudah saya wanti-wanti. Kalau kepala saya sampai besar, nanti bapak yang repot juga, mesti beliin saya helm baru, hehehe..”, jawab anak lanang sambil terkekeh.
“Mau ujian kok masih sempat bercanda”, si bapak ikut pula tersenyum.

Anak lanang mengambil sepatu gunung dirak sepatu kemudian memakainya. Sepatu itu paling senang ia gunakan karena memang special gift dari bapaknya. Vespa keluaran 1984 kepunyaan si anak lanang sudah terlebih dahulu berdiri di depan rumah. Siap menemaninya menuju tempat tes kali ini.

“Pak, Bu, saya berangkat dulu ya”, anak lanang berpamitan pada bapaknya. Ibunya yang berada di dapur tergopoh-gopoh ke ruang depan sambil membawa bekal makan siang untuk anak lanang.
“Wah.. Dibawain apa ini, Bu?”, si anak lanang heran. Tumben ia disangoni.
“Namanya juga mau berperang. Jadi mesti bawa logistik, ya to, Pak?”, Ibu melirik ke bapak sambil tersenyum.
“Iya, biar tuntas sampai akhir perangmu itu. Ingat ya, Nak! Struggle like summit attack, do like fall-in-love. Berjuanglah seperti sedang mendaki puncak gunung, lakukanlah seperti sedang jatuh cinta“, bapak mulai berfilsafat.
Inggih, Pak”, anak lanang mencium tangan bapak dan ibunya.
Tuhan berpihak kepada orang-orang yang memesrai-Nya. Insya Allah“, bapak menutup ceramahnya. Dan si anak lanang pun berangkatlah ia menuju “medan perang”.

*Sharing dengan seorang Sahabat

Leave a comment

Filed under Cerita Pribadi

Silakan tinggalkan pesan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s