Jadi, Apakah Sekolah Itu Penting?

Sekolah Dasar ditempuh selama 6 tahun, SMP selama 3 tahun, SMA 3 tahun, dan kuliah selama 4 tahun. Apa yang sudah didapat dari proses belajar yang terlampau lama ini? Apakah kita sudah mampu membuat mesin pesawat terbang? Atau sudah mampu memberikan resep obat kepada orang yang sakit diabetes? Atau sudah mampu melakukan negosisasi dengan klien bisnis? Atau sederhana saja deh, sudah bisa membuat apa sampai hari ini?

Ada seorang mahasiswa ditanya, “Apa yang sudah kau dapatkan selama bersekolah dari SD hingga perguruan tinggi?”.
Mahasiswa menjawab: ilmu.
“Letaknya ilmu dimana?”
Mahasiswa menjawab: di otak.
“Sudah bisa membuat alat/mesin apa kamu sekarang?”
Mahasiswa menjawab: belum ada.
“Berarti otakmu tidak ada isinya donk?”.
Si mahasiswa pun diam. Apa artinya? Coba pikirkan sendiri!

Keberhasilan seorang siswa di sekolah/kuliah selama ini selalu dilihat dari nilai yang berhasil dicapai. Seorang siswa dicap pintar jika ia tidak pernah mendapat nilai dibawah 6. Dan dicap bodoh jika mendapat nilai di bawah 6. Rasanya tidak adil kalau pembagian bodoh dan pintar hanya berdasar nilai ujian yang didapat. Atau bagi yang kuliah, pintar-bodoh hanya dilihat dari IPK. ITU TIDAK ADIL!!

Kalau hanya sekolah yang memberikan cap pintar-bodoh kepada siswanya, artinya itu tidak fair. Apalagi pemerintah, yang dengan sok bijak menentukan lulus-tidak lulusnya seorang siswa hanya dengan ujian nasional selama 3 hari. Lalu apa artinya proses belajar selama 3 tahun jika hanya ditentukan dalam waktu 3 hari?
Seharusnya seorang siswa boleh donk memberikan cap kualitas bagus-jelek terhadap sekolah/kampusnya🙂
Seharusnya seorang siswa boleh donk memberikan cap bagus-jelek terhadap pemerintahnya, atau kepada Menteri Pendidikannya🙂

Baiklah, mari kita uji sekolah/kampus kita!

  1. Seberapa jauh sekolah telah membantu saya dalam menjalani hidup saya dengan baik?
  2. Apakah saya mempunyai kenangan yang membanggakan terhadap prestasi saya selama bersekolah?
  3. Jika saya mendengar kata sekolah, kenangan positif apa yang masih bisa saya ingat?
  4. Dapatkah saya secara jujur mengatakan bahwa apa yang saya pelajari di sekolah telah membantu saya untuk berhasil dalam hidup saya?
  5. Apakah sekolah mengajarkan bagaimana membuat dunia ini sebagai suatu tempat tinggal yang lebih baik?
  6. Apakah dengan bekal pelajaran yang didapatkan di sekolah, saya dapat bekerja dan menghasilkan banyak uang untuk membiayai hidup saya dan keluarga saya?
  7. Apakah sekolah juga mengajarkan keahlian untuk membantu saya menikmati hidup yang berkualitas?
  8. Apakah sekolah telah berhasil membantu saya menjadi seorang manusia yang utuh dengan mengerti potensi diri saya yang sesungguhnya?
  9. Setelah selesai sekolah, apakah saya benar-benar siap terjun ke masyarakat dan menjadi warga masyarakat yang baik dan berguna?
  10. Apakah sekolah menyiapkan saya untuk menjadi seorang sarjana yang siap pakai?
  11. Apakah sekolah mengajarkan saya keahlian berpikir dan menjadi seorang pemmikir yang lebih baik, yang terus berkembang dari waktu ke waktu dan menuju arah yang lebih baik?

Albert Eisntein berkata “Pendidikan adalah apa yang tersisa dalam diri seseorang setelah ia lupa akan semua hal yang pernah ia pelajari saat duduk di bangku sekolah.”

Jadi, apakah sekolah itu penting?

*Kesebelas pertanyaan ini saya baca dari buku Born to be A Genius karya Adi W. Gunawan

2 Comments

Filed under Sosial

2 responses to “Jadi, Apakah Sekolah Itu Penting?

  1. Pendidikan dalam pandangan Ki Hadjar adalah penerapan nilai-nilai. Sekolah adalah wadah yang ideal. Teorinya sih seperti itu, tapi pada prakteknya kita kerap dibenturkan dengan fakta yang menjijikan. Misalnya saja, komersialisasi institusi pendidikan, kreativitas dan identitas yang dipenggal melalui sistem ‘seragam’, belum lagi sistem pendidikan itu sendiri. Karena itu tak heran bila Ki Hadjar selalu menegaskan bahwa pendidikan keluarga selalu nomor wahid. “Dikiranya tak perlu lagi di dalam rumah diadakan syarat-syarat pendidikan. Segalanya seolah diserahkan borongan pada sekolah dan pihak guru,” tuturnya dalam satu artikel di Keluarga (edisi Nopember 1936).

    • Realita sekarang memang seperti itu. Sudah banyak orang yang keliru dalam memaknai hakikat pendidikan. Terima kasih atas sumbangsih komentarnya. Semoga bisa menjadi kebaikan kita bersama.

Silakan tinggalkan pesan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s