Buat Apa Kuliah?

Salah satu tujuan kita bersekolah atau kuliah adalah untuk mempersiapkan diri agar kelak bisa hidup mandiri. Salah satu aspek penting untuk bisa dikatakan mandiri adalah mendapatkan penghasilan atau uang –dan itu tidak pernah diajarkan di sekolah/kuliah. Padahal pengetahuan cara mencari uang itu penting agar bisa hidup di tengah-tengah rimba kehidupan. Kebanyakan pelajaran-pelajaran di sekolah hanya mengajarkan tentang ilmu alam, ilmu berbahasa yang baik, ilmu menghitung angka yang rumit-rumit hingga harus remidi puluhan kali dan puluhan pelajaran lain yang memang sebenarnya tidak penting.

Coba lihat realita di kampus. Apa hubungannya jurusan yang diambil dengan bidang pekerjaan yang akan diterjuni setelah lulus? Kalau dipikir baik-baik, kita akan tercengang, bidang pekerjaan dengan jurusan benar-benar tidak masuk di akal.

Ada kakak angkatan saya yang lulusan Teknik Industri namun sekarang bekerja sebagai PNS di Pemda Kabupaten. Padahal IPKnya bagus, bisa dikatakan istimewa. Ada juga seorang lulusan Teknik Pertambangan dan sekarang membuka usaha toko online batik. Memang sih penghasilannya per bulan bisa mencapai puluhan juta rupiah. Tapi apa hubungannya coba, jurusan kuliah dan bidang pekerjaan yang digeluti sama sekali tidak berhubungan!

Ada juga sahabat saya yang sudah lulus S2, namun kalau ditanya ingin bekerja apa, ia bilang tidak tahu. Akan membuka usaha apa, ia juga masih bingung. Mungkin iya, ilmunya sudah selangit, tapi cara menghasilkan uang saja masih bingung. Disini saya tidak membahas tentang takdir dari Tuhan loh ya. Saya berbicara tentang realita kehidupan yang ada sekarang.

Benang merah yang menghubungkan disiplin ilmu yang digeluti selama masa sekolah/kuliah dengan kebutuhan untuk memperoleh suatu penghasilan tampak semakin absurd. Yang lebih absurd lagi, kemampuan menghasilkan uangnya sama sekali tidak memiliki hubungan secara langsung dengan tingkat pendidikan, jurusan yang dipilih, ataupun indeks prestasi/IPK.

Pernahkan kita melakukan survey terhadap tukang penjual sate, nasi goreng atau orang yang bekerja sebagai petani? Saya pernah melakukan survey terhadap seorang supplier buah yang biasa mengirim buah ke Jakarta. Setiap 3 hari sekali ia biasa mengirim buah ke Jakarta menggunakan mobil pick-up, sekitar 3-5 ton buah. Berapa penghasilannya dalam sekali berangkat itu? 5 juta rupiah, Sodara. Dipotong dengan ongkos bensin, ongkos pegawai, biaya perawatan mobil dan ongkos ini itu, ia bisa mengantongi keuntungan bersih 1 juta. Kalau ditotal dalam sebulan (30 hari) ia akan memperoleh keuntungan bersih 10 juta. Hanya dengan mengirim buah ke Jakarta, hanya dengan 1 buah pick up. Coba bayangkan kalau pick up-nya ada 5 atau 10. Tinggal dikalikan saja.

Saya membandingkannya dengan penghasilan seorang sarjana fresh gradute dari sebuah perguruan tinggi ternama, IPK-nya di atas 3,5, lulus cum laude pula. Rata-rata penghasilan mereka masih jauh di bawah supplier buah tadi. Saya menjadi berpikir, kalau memang akhirnya mau memilih menjadi seorang supplier buah-buahan, menjadi seorang agen asuransi, menjadi seorang pegawai bank, atau menjadi pengusaha, lalu buat apa mengambil jurusan yang sekali tidak ada hubungannya dengan bidang pekerjaan yang akan digeluti?

Atau cara kasarnya, buat apa kuliah jika nantinya ilmu yang diperoleh di bangku kuliah tidak dipakai di kehidupan bermasyarakat?

Leave a comment

Filed under Cerita Pribadi

Silakan tinggalkan pesan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s