Dilahirkan Untuk Sukses – Dikondisikan Untuk Gagal

“Ayo, sayang. Ayo, sini. Ayo berdiri.. Iya, anak pintar. Ayo sini, mendekat ke Ayah dan Bunda. Ayo jalan.. Satu.. dua.. tiga.. (Seketika anak tersebut jatuh). Ayo nggak apa-apa. Ayo berdiri lagi. Iya, anak pintar. Maju sini. Ayah dan Bunda disini. Ayo, sini. Hap.. (Anak tersebut jatuh ke pelukan ayah bundanya). Wah.. anak Ayah dan Bunda memang hebat!”.

Masih ingatkah pada percakapan seperti itu waktu kecil dulu? Percakapan yang penuh dengan nada motivasi, nada menyemangati, dan penuh kasih sayang. Tidak pernah dinemukan kasus orangtua atau siapa pun yang memaki anaknya ketika anaknya jatuh saat belajar berjalan.

“Bodoh. Goblok. Begitu saja tidak bisa. Memang dasar anak blo’on. Tidak ada gunanya ngajarin kamu jalan. Jatuh terus. Bodoh!”.
Pernahkah mendengar umpatan seperti itu dari orangtua kepada anaknya yang masih belajar berjalan? Kalau ada yang seperti itu tentu yang melihatnya pasti akan mengelus dada. Orang tua seperti itu tidak pantas hidup di masyarakat, mereka pantasnya hidup di rumah sakit jiwa. Karena memang gila.

Mengapa waktu kecil dulu seorang anak mampu belajar dengan cepat dan merasakan bahwa tidak perlu terlalu bersusah-susah payah sekali untuk mempelajari sesuatu. Proses belajar berjalan begitu alami dan mudah. Tidak ada perasaan stres karena gagal ketika belajar naik sepeda, tidak ada perasaan stres karena jatuh saat belajar sepatu roda. Semua berjalan dengan indah bukan?

Namun, semua akan berubah seketika saat si anak mulai masuk sekolah. Wajah ceria itu akan berubah menjadi wajah yang takut kepada gurunya. Wajah yang bosan karena pelajaran hanya itu-itu saja –guru membaca dan menulis sedangkan siswa cuma mendengarkan. Siswa cuma diajari menggambar dua buah gunung dengan jalan di tengahnya. Lalu ada matahari dan pelangi. Dan ada tanaman padi di samping kiri kanan jalan tersebut. Hampir semua gambar anak-anak kecil waktu SD seperti itu.

Tidak cukup sampai disitu. Para murid pun diharuskan memberikan jawaban yang benar ketika ditanya. Bila para murid tersebut membuat kesalahan, ia akan dihukum –menjewer telinganya sendiri sambil kaki yang satunya diangkat. Murid tidak termotivasi karena rasa senang untuk belajar, namun termotivasi oleh rasa takut berbuat salah.

Seringkali di dalam kelas, bahkan bagi mahasiswa yang sudah kuliah. Ia ditanya oleh dosennya dan tidak bisa menjawab. Bukan karena susahnya pertanyaan tersebut, namun karena rasa takut itulah yang sudah membuat otaknya tidak bisa berpikir jernih lagi. Si mahasiswa takut kalau ia sampai salah menjawab dan ditertawakan karena dianggap bodoh oleh teman-temannya.

Leave a comment

Filed under Inspirasi

Silakan tinggalkan pesan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s