Daripada Mengutuk Kegelapan, Lebih Baik Nyalakan Lilin Sekarang!

Kenaikan BBM hari ini diberlakukan, 22 Juni 2013. Dari harga Rp 4.500 menjadi Rp 6.500 untuk premium, dan menjadi Rp 5.500 untuk solar. Naiknya harga BBM ini sudah diisukan jauh-jauh bulan lalu. Sejak tahun 2012 pun, isu ini sudah digaungkan meski DPR menolak usulan pemerintah tersebut. Dalam masa pemerintahan SBY ini sudah terjadi kenaikan BBM sebanyak 4 kali. Berikut adalah sejarah kenaikan BBM di era SBY:

  1. 1 Mei 2005, harga BBM naik 32% untuk premium dari Rp 1.810 menjadi Rp 2.400 per liter dan solar dari Rp 1.650 menjadi Rp 2.100 per liter atau 27%. Penyebabnya karena naiknya harga minyak dunia.
  2. 1 Oktober 2005, BBM kembali dinaikkan secara signifikan. Premium naik dari Rp 2.400 menjadi Rp 4.500 per liter atau naik 87% dan harga solar naik dari Rp 2.100 menjadi Rp 4.300 per liter atau naik 105%.
  3. 24 Mei 2008, harga BBM kembali naik. Premium menjadi Rp 6.000 per liter. Penyebabnya adalah krisis ekonomi global yang membuat harga minyak ikut melambung.
  4. 29 Januari 2009, hanya berselang 6 bulan, BBM diturunkan menjadi Rp 4.500 per liter. Penyebabnya, menurut pemerintah karena harga minyak dunia turun. Meski ada juga sebagian kalangan yang mengatakan bahwa ini politik pemerintah untuk memenangkan diri pada Pemilu 2009.
  5. 22 Juni 2013. BBM premium naik dari Rp 4.500 menjadi Rp 6.500, dan BBM solar naik dari Rp 4.500 menjadi Rp 5.500.

Demonstrasi penolakan harga BBM ini terjadi dimana-mana, terutama seminggu terakhir. Demonstrasi ini paling terasa di pulau Jawa, dimana harga BBM tidak begitu mahal. Coba bandingkan dengan penduduk yang tinggal di pedalaman Kalimantan dan Papua. Harga BBM disana saat belum naik pun sudah sangat mencekik. Tetapi masyarakat disana diam tidak berdemonstrasi, bisa jadi karena memang sudah pasrah, namun bisa jadi pula karena warga disana punya semangat yang lebih baik, daripada masyarakat di Jawa yang gemar protes.

Daripada mengutuk kebijakan pemerintah ini, lebih baik berbuat hal yang positif. Untuk menanggulangi dampak kenaikan BBM yang berimplikasi terhadap harga sembako, banyak hal yang bisa dilakukan. Jadikan momentum kenaikan BBM ini untuk merubah sikap diri ke arah yang lebih baik. Bagi yang masih suka merokok, yang dalam sehari bisa menghabiskan sebungkus rokok dengan harga Rp 10.000, berhematlah hingga setengahnya. Niscaya itu akan membantu dalam menanggulangi dampak kenaikan BBM. Atau alangkah lebih baik lagi berhenti merokok. Uang yang sebaiknya untuk membeli rokok bisa dialokasikan ke hal lain.

Janganlah suka menjadi generasi yang suka mengutuk, namun tidak pernah berbuat hal yang mengarah pada kebaikan. Jangan pernah menjadi seorang kritikus buku jika belum pernah menulis buku. Jangan menjadi orang yang gemar beretorika namun miskin karya.

Bagi mahasiswa yang selama seminggu kemarin sudah berdemonstrasi, membakar ban di tengah jalan, membakar pos polisi, membuat kemacetan lalu lintas, membuat warga yang memiliki kepentingan mendesak akhirnya mengurungkan niatnya karena jalan diblokir. Bagi para mahasiswa yang berdemonstrasi, ucapan terima kasih perlu diberikan karena sudah menyuarakan suara rakyat. Namun kalau para mahasiswa tersebut, setelah kenaikan harga BBM ini tidak berbuat sesuatu, tidak belajar yang rajin supaya cepat lulus, supaya cepat bisa membuka lapangan kerja, maka ucapan terima kasih tersebut tidak pantas diberikan. Kalau hanya bermalas-malasan, bangun siang hari, kerjanya hanya ngantuk-ngantukan ketika kuliah di dalam kelas. Maka sekali lagi, ucapan terima kasih tersebut TIDAK PANTAS DIBERIKAN!!

Leave a comment

Filed under Cerita Pribadi

Silakan tinggalkan pesan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s