Resensi Buku – Layar Terkembang by Sutan Takdir Alisjahbana

Cover Layar Terkembang

Cover Layar Terkembang

Back cover Layar Terkembang

Back cover Layar Terkembang

Penerbit: Balai Pustaka – Jakarta
Tahun terbit: 2006 (Cetakan pertama tahun 1936)
Tebal halaman: 201 halaman
Pengarang: Sutan Takdir Alisjahbana
Golongan: Fiksi – Sastra Klasik

Deskripsi:
Cerita ini berlatar tahun 1900an (pra kemerdekaan) –bisa dilihat dari beberapa deskripsi yang menerangkan bahwa tokoh masih menempuh pendidikan di sekolah Belanda. Cerita ini berisikan tiga tokoh utama yaitu Tuti, Maria, dan Yusuf. Mereka bertiga merupakan pemuda yang berasal dari golongan cukup berada sehingga memiliki kesempatan untuk menempuh pendidikan tinggi. Tuti adalah guru di sebuah sekolah HIS dan Maria adalah murid di HBS. Tuti adalah seorang aktivis organisasi yang sibuk memperjuangkan persamaan hak kaum perempuan. Ia berwawasan luas, pandai dan pikirannya penuh dengan pertimbangan apabila akan menilai sesuatu. Maria selaku adiknya memiliki karakter yang berbanding terbalik dengan kakaknya. Ia adalah orang yang ceria dan mudah memberikan penilaian akan sesuatu hal.

Cerita dimulai ketika Tutia dan Maria berjalan-jalan di gedung akuarium Pasar Ikan di Jakarta. Mereka bertemu dengan Yusuf, seorang mahasiswa kedokteran (Sekolah Tabib Tinggi). Yusuf adalah juga seseorang yang aktif di organisasi kepemudaan, berpikiran modern serta kritis terhadap segala hal. Pertemuan di akuarium tersebut membuat Yusuf tertarik pada Maria, karena pembawaannya yang lebih ceria dan easy going. Akhirnya Yusuf dan Maria menjalin cinta hingga akhirnya bertunangan.

Tuti memiliki jalan pikiran sendiri. Sebagai seseorang yang aktif menyuarakan hak perempuan, ia memiliki pandangan bahwa daripada hidup dengan lelaki yang tidak ia cintai atau tidak ia idamkan, lebih baik ia melajang seumur hidup. Lelaki yang ia idamkan maksudnya adalah orang yang satu jalan pikiran dengannya, tidak mengekang keinginannya untuk selalu bertumbuh, dan tidak mengurungnya dalam ‘dapur, sumur, kasur’. Dua kali ia menolak cinta dari pemuda karena dianggapnya mereka tidak se-level dengannya. Ia tidak mau mengorbankan prinsip hidupnya, prinsip yang selama ini ia wacanakan dalam setiap pertemuan organisasi. Bahwa lebih baik melajang daripada hidup dengan lelaki pemikirannya tidak semaju dirinya.

Menjelang pernikahan Maria dan Yusuf, ternyata musibah menimpa Maria. Maria terkena TBC dan parahnya itu dibarengi dengan penyakit malaria yang membuatnya makin lemah. Maria dilarikan ke sanatorium Pacet, sebuah rumah sakit di pegunungan untuk menjalani penyembuhan. Namun takdir berkata lain, Maria pun meninggal karena penyakitnya itu. Sebelum Maria meninggal, ia berpesan bahwa ia akan berbahagia apabila Tuti dan Yusuf bisa hidup bersama. Hingga pada akhirnya Tuti dan Yusuf pun bertunangan dan akhirnya menikah.

Leave a comment

Filed under Cerita Pribadi

Silakan tinggalkan pesan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s