Ngejazz Malu, Tak Ngejazz Rindu

Jazzer muda unjuk gigi di Jazz Mben Senen (Sumber foto: fotokita.net)

Jazzer muda unjuk gigi di Jazz Mben Senen
(Sumber foto: fotokita.net)

Seperti biasanya pada Senin malam, Jazz Mben Senen menggelar pentas jazz rakyat untuk yang kesekian ratus kalinya. Acara yang biasanya diisi oleh para musisi jazz lokal dari Yogyakarta ini selalu ramai dihadiri para penggemarnya. Bukan hanya musisi dari komunitas jazz di wilayah Jogja, beberapa musisi nasional bahkan mancanegara juga tidak sedikit yang pernah mencicipi panggung di depan Bentara Budaya tersebut. Kursi dan kloso yang disediakan panitia pun selalu penuh dan tidak sedikit pula para penonton yang akhirnya harus berdiri.

Acara jazz yang merakyat seperti ini menjadi hiburan tersendiri bagi masyarakat Jogja. Acara yang sederhana, gratis dan  joke yang dibawa oleh MC pun selalu membuat pengunjungnya betah. Tidak sedikit mereka yang sudah berada di Jogja lagi –entah karena sudah bekerja di luar kota, pindah rumah, dan sebagainya, mengaku kangen terhadap Jazz Mben Senen. Testimoni seperti itu banyak melayang dalam bentuk mention ke akun twitter @jazzmbensenen.

Acara Jazz Mben Senen rutin digelar setiap hari Senin, mulai pukul 20.00 hingga pukul 23.00, bahkan seringnya sampai pukul 24.00. Acara ini gratis tidak dipungut biaya sepeser pun. Cukup bayar parkir ke petugas. Acara ini digelar di Bentara Budaya, Jalan Suroto, Kotabaru, Yogyakarta. Atau untuk mudahnya di sebelah kantor Telkom Yogyakarta. Biasanya para pengunjung datang pukul 19.00, sambil menunggu acara Jazz Mben Senen dimulai, pengunjung menikmati pameran yang biasa diselenggarakan di Bentara Budaya. Setiap minggunya biasanya ada gelaran pameran lukisan, seni rupa, dan sebagainya. Sambil menunggu musik dimulai, berkesenian yang lain cukup untuk membuat otak refresh.

Musik jazz memang tidak semua orang bisa menikmatinya. Ada orang yang bilang bahwa mereka yang menyukai musik jazz artinya memiliki selera musik yang tinggi. Sebenarnya itu tidak tepat. Di dalam dunia seni, tidak ada yang namanya selera tinggi atau rendah. Semua bergantung pada pilihan dan preferensi masing-masing. Jangan pernah bilang musik dangdut itu selera rendahan dan jazz itu selera tinggi. Itu salah besar. Bukan hak seorang manusia untuk memberikan penilaian ‘tinggi-rendah’ kepada orang lain.

Tagline Jazz Mben Senen adalah ketika MC mengucap “Jazz Mben Senen”, maka penonton harus menjawab “Kancaku!”. Cukup sederhana bukan? Simpel tetapi kaya arti. Jadi, untuk para masyarakat Jogja yang Senin malamnya tidak ada kegiatan, boleh main ke Jazz Mben Senen. Berkesenian lah sebelum berkesenian itu dilarang.

Salam Jazz.

Pemusik dan penonton berbaur jadi satu (Sumber foto: fotokita.net)

Pemusik dan penonton berbaur jadi satu
(Sumber foto: fotokita.net)

Jaduk Ferianto di Jazz Mben Senen (Sumber foto: fotokita.net)

Jaduk Ferianto di Jazz Mben Senen
(Sumber foto: fotokita.net)

Menikmati jazz cukup dengan duduk di koran, sederhana dan romantis (Sumber foto: fotokita.net)

Menikmati jazz cukup dengan duduk di kloso, sederhana dan romantis bukan?
(Sumber foto: fotokita.net)

Duo MC Chokky Sitohang dan Raffi Ahmad bersendal jepit (Sumber foto: fotokita.net)

Duo MC Chokky Sitohang dan Raffi Ahmad bersendal jepit
(Sumber foto: fotokita.net)

Kendang jawa ber-jam session dengan bass (Sumber foto: fotokita.net)

Kendang jawa ber-jam session dengan bass
(Sumber foto: fotokita.net)

Leave a comment

Filed under Cerita Pribadi

Silakan tinggalkan pesan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s