Alarm Emosi part 1

Sebuah pertanyaan ditujukan pada seorang trainer NLP. “Pak, apakah seseorang yang belajar NLP tidak bisa sedih, marah, atau merasakan emosi negatif lainnya?”.

Sebuah pertanyaan yang menggelitik. Ditengah maraknya berbagai ilmu pengembangan diri, utamanya yang berbasis Mind Technology, kata-kata emosi negatif seolah-olah hanya milik emosi sedih, benci, galau, dan lain-lain. Sementara, emosi-emosi seperti senang, gembira dan kawannya, dengan sendirinya masuk ke dalam kelompok positif.

Si trainer sempat sepakat dengan pelabelan ini. Sampai, ia kembali dihadapkan pada salah kaidah: Setiap perilaku, setiap hal, selalu memiliki manfaat, dalam konteksnya masing-masing.

Pikiran si trainer pun mengembara pd ayat-Nya. Bahwa Alloh SWT tidak menciptakan sesuatu dengan sia-sia. Maka, kelompok emosi yang digolongkan negatif, tentu memiliki fungsi dan manfaat, dalam konteksnya sendiri.

Masuk akal. Tapi bagaimana riil-nya? Bagaimana persisnya rasa sedih itu bermanfaat?
Sebuah nasihat bijak mengatakan:

“Sumber segala masalah adalah ketidakseimbangan”.

Ya. Segala sesuatu yang seimbang, pas, serasi. Yang ketika titik keseimbangan itu terganggu, ia pun memicu sebuah masalah. Dimana pun masalah itu timbul, sebenernya itu adalah proses menuju keseimbangan.

Mari tengok seseorang yang sedang makan makanan favoritnya. Dalam porsi yang tepat, ia akan merasakan sebuah kenikmatan yang tiada tara. Namun, cobalah tambahkan porsinya hingga 2-3 kali lipat. Maka rasa nikmat pun segera berganti dengan rasa kenyang yang tak tertolong, yang bahkan dapat mengakibatkan sakit perut.

Menulis tentang hal ini, sebuah memori pun menyeruak dalam benak si trainer. Memori tentang saat pertama kali belajar bela diri. Betapa sekujur tubuh sakit luar biasa di minggu pertama ia menjalani proses latihan nan keras itu. Anehnya, berjalan minggu kedua dan seterusnya, tubuhnya seolah menyesuaikan dirinya sendiri. Dan justru menjadi segar setiap kali selesai berlatih. Hasilnya selama 2 tahun berlatih intensif 3 kali seminggu, si trainer tidak pernah sakit sama sekali.

Indah? Tidak.

Di tahun ketiga, ketika si trainer mulai banyak aktif di kegiatan lain, porsi latihan pun menurun drastis. Maka, titik keseimbangan kebugaran tubuh yang telah terbentuk pun terganggu. Alhasil segala ragam penyakit mulai menyerang, seperti flu, sakit kepala, dan lain-lain. Disebabkan karena stamina yang menurun ditambah jarang latihan.

Apa pula hubungannya kisah-kisah ini dengan bahasan soal emosi?

Amat erat.

Belakangan baru dipahami bahwa emosi layaknya alarm pemberi peringatan. Ia bekerja ketika sebuah kondisi tak standar. Dan seiring dengan perkembangan kondisi diri, standar ini pun bisa berubah.

Mari tengok anak kecil yang sedang menangis. Apa saja penyebabnya? Tidak mendapatkan yang dia mau atau diisengin kawannya? Pertanyaannya, apakah penyebab menangisnya anak kecil, jika terjadi pada orang yang dewasa ini? Akan menimbulkan efek menangis yang sama?

Ah, rasanya konyol bukan?

Di sisi lain, jika hal-hal remeh tersebut sudah tak berarti lagi, hilangkah kemampuan menangis dari seorang manusia? Hilangkah emosi sedih tersebut? Ya. Tentu tidak. Manusia mutlak masih bisa menangis dan bersedih, namun dengan penyebab yang berbeda. Dari sini, bisa dipahami bahwa berarti emosi sedih sejatinya hanyalah penanda akan adanya sebuah kondisi yang harus diatasi.

*Sharing bersama Trainer NLP

Leave a comment

Filed under Inspirasi

Silakan tinggalkan pesan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s