Alarm Emosi part 2

Rasa marah. Dahulu ada begitu banyak hal yang bisa membuat seseorang marah. Namun kini, tidak semua hal yang dulu bisa membuat marah sekarang masih mampu membuat marah lagi. Maka marah pun adalah sebuah penanda darurat akan adanya sebuah kondisi yang patut dicarikan solusi. Yang ketika solusi itu muncul, redalah marahnya, bahkan bisa seketika berganti tawa.

Berarti emosi negatif penting donk? Bukan penting, tapi penting banget!! Betul. Sebab ia ibarat alarm kebakaran berbunyi akibat ada api.

Maka mencoba menghilangkan emosi negatif tanpa menyelidiki dan mengatasi sumbernya, sama saja dengan mematikan alarm kebakaran, tanpa peduli bahwa mungkin ada sumber api yang masih menyala.

Wow, bahaya juga ya? Sangat!! Maka, cobalah bertanya pada diri sendiri: “Mengapa sang emosi masih jua kita rasakan? Apa sumbernya? Bagaimana ia ingin diatasi?”.

Persis seperti nasihat seorang Guru Hypnotherapy, “Seseorang yang mengalami masalah, biasanya disebabkan ia kehilangan keakraban dengan dirinya sendiri”.

Menggunakan analogi alarm di atas, suara alarm tidak dibutuhkan lagi apabila sudah begitu jeli mengenali tanda-tanda adanya api dan segera mengatasinya. Begitu pula dengan emosi negatif. Tidak perlu merasa marah, jika manusia itu begitu akrab dengan diri. Sehingga jeli merasakan tanda-tanda adanya kondisi yang tidak standar dan segera mengatasinya.

Seorang sahabat yang merupakan manager di sebuah perusahaan. Satu kali ia mengeluh, begitu pusing sebab beberapa orang karyawan andalannya mengundurkan diri. Tak sekedar pusing, ia mulai merasa tak nyaman dan aman dengan pekerjaannya. Khawatir karena banyak pekerjaan dan proyek yang tak terselesaikan. Dan karirnya jadi taruhan.

Alih-alih menggunakan berbagai jurus untuk membantu mengatasi rasa khawatir tersebut. Si trainer memilih untuk mengajaknya merenungkan penyebab sang khawatir turun gunung. Obrolan demi obrolan pun berlanjut. Hingga akhirnya, dengan hanya bermodal ketrampilan bertanya ini, si trainer pun mulai melihat perubahan pada dirinya. Terutama saat ia menyadari bahwa penyebab sang khawatir muncul adalah ketidaksiapan akan kader pengganti karyawannya yang pindah. Ia sebenernya senang, karena mereka mendapatkan tempat kerja yang lebih baik. Ini sejatinya membuktikan bahwa selama ini ia juga telah berhasil menjadi pendidik yang baik bagi mereka.

“Iya ya, semestinya aku bangga loh mereka dapat pekerjaan yang lebih baik. Berarti apa yang ku lakukan selama ini berhasil meningkatkan nilai jual mereka”, ujar si manager ini.

Nah, diskusi terakhir inilah yang kemudian membukakan mata dan hatinya akan keahlian ia dalam mendidik orang lain. Maka senyumnya pun mengembang, ketika sebuah pertanyaan hinggap.

“Apa yang menghalangimu untuk secepat mungkin mencari pengganti yang potensial, lalu menggunakan keahlianmu dalam mengajari mereka, persis seperti pernah kamu lakukan pada karyawan yang lulus itu?”.
“Apalagi, jelas sekarang keahlianmu kini pasti jauh lebih baik dibanding dulu”.

Singkat cerita, meski perlu waktu, rasa pusing tak pernah lagi ia rasakan. Justu, rasa pusing menjadi sebuah tanda akan perlunya ia mencari CARA BARU menyelesaikan pekerjaannya.

Si trainer  pun menutup obrolan tersebut dengan nasihat bijak.

Sedih pada tempat dan kadarnya itu penting, sebab ia melembutkan hati. Marah pada tempat dan kadarnya itu penting, sebab ia melindungi diri dari kesewenang-wenangan yang sulit dinasehati.

Leave a comment

Filed under Cerita Pribadi

Silakan tinggalkan pesan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s