Anak Lanang Maju Seminar

Akhir-akhir ini anak lanang sedang gundah. Proposal skripsi yang ia ajukan beberapa bulan lalu, sampai bulan ini, sudah 3 bulan lebih belum ia seminarkan. Ia takut bila waktu kuliahnya mundur lagi hingga satu semester, bahkan lebih. Ia merasa tidak tega melihat bapaknya yang semakin menua. Malam hari sebelum ia bimbingan esoknya, ia menghadap bapaknya.

“Pak, mohon doa restunya ya, Pak. Besok saya mau menghadap dosen, mau meminta ijin maju seminar proposal skripsi”, anak lanang mengawali pembicaraan di teras.
“Kamu sudah yakin mau maju?”, bapaknya bertanya balik.
“Sudah yakin donk, Pak. Lagian mau maju kapan lagi coba, Pak. Masa iya molor-molor terus. Saya ngga tega sama bapak”.
“Sudah mulai kasihan to kamu sama bapakmu ini?”.
“Ihh.. Bapak iki lho. Sebagai anak yang baik tentu saja saya ikut prihatin melihat kondisi bapak yang sudah semakin tua. Uang kuliah yang hutang sana sini. Tentunya saya kan juga pingin membahagiakan bapak, meski hanya lewat momen yang disebut wisuda”, anak lanang mulai menggenangkan air mata. Takut menetes, ia buru-buru melanjutkan, “Beneran doakan ya, Pak?”.
Iyo le. Bapak pasti doakan. Apa yang baik menurutmu, tentu bapak akan mendukung selagi bapak mampu. Kamu sudah dewasa tentu sudah tahu setiap konsekuensi dari setiap keputusan yang kamu ambil”, bapak menasehati.
Nggih, Pak. Saya paham”, anak lanang masuk ke dalam rumah dan mulai berkutat kembali dengan revisi skripsinya.

Singkat cerita akhirnya anak lanang berhasil membujuk dosen pembimbingnya untuk maju seminar. Meski ia sadar bahwa masih banyak yang perlu direvisi. Anak lanang berpikir bahwa mau maju bulan ini atau bulan depan, hasilnya akan sama saja. Dosen penguji pasti akan selalu mengorek-ngorek kesalahan dalam skripsinya. Ia bertekad, biarlah ia dibabat oleh dosen pembimbing, yang penting maju dulu. Dibabat ngga dibabat toh sama saja hasilnya, skripsi itu perlu direvisi.

Akhirnya tibalah pada hari H seminar proposal skripsi. Anak lanang sudah mempersiapkan segala hal yang ia perlukan. Dari mulai belajar materi, browsing tentang isu-isu terbaru, membeli snack di toko kue dan mempersiapkan produk skripsi yang ia teliti. Pokoknya semuanya sudah ia siapkan matang-matang, meski ia sadar betul hasil skripsinya masih setengah matang.

Anak lanang datang ke kampus pukul 07.00. Jadwal seminarnya sendiri aslinya pukul 07.30. Namun, anak lanang berinisiatif datang lebih awal untuk mengantisipasi hal-hal seperti LCD proyektor yang tidak kompatibel dengan laptopnya, atau ban motornya gembes di tengah jalan. Dengan kemantapan langkah ia masuk ke ruang sidang. Dan kosong.

Pukul 07.30 dosen datang. Namun ada satu orang dosen yang datang terlambat. Sidang anak lanang pun diputuskan di-skors selama 15 menit oleh dosen pembimbing untuk menunggu dosen penguji yang satu ini. Pukul 07.45 seminar dimulai.

***

Seminar proposal skripsi selesai. Anak lanang lega bahwa satu step telah ia lewati. Meski akhirnya draft-nya banyak yang perlu direvisi, ia tidak peduli. Minimal menghemat satu SKS bila memang ia tidak bisa lulus semester ini. Maksimalnya, ia bisa memberi kabar gembira bapaknya bahwa ia sudah seminar. Satu langkah lagi menuju pendadaran.

Sukses di seminar proposal, harus dilanjutkan dengan revisi dan pengerjaan bab-bab selanjutnya. Lalu setelah itu anak lanang harus melalui step lagi yang bernama pendadaran.

Ahh.. memang benar, di dunia ini tidak ada yang namanya kesuksesan. Sukses hanyalah penyebutan untuk sebuah “step” yang digunakan sebagai batu pijakan untuk mencapai “step-step” berikutnya.

Leave a comment

Filed under Cerita Pribadi

Silakan tinggalkan pesan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s