Jalan Tak Ada Ujung

Jalan Tak Ada Ujung

Jalan Tak Ada Ujung

Kehidupan manusia layaknya sebuah perjalanan. Yang manusia itu sendiri pun tidak tahu kapan ia mulai melangkah dan tidak tahu kapan perjalanan itu akan berakhir. Ingatan manusia hanya terbatas ketika sudah mulai berumur 3 tahun ke atas. Adakah yang mampu mengingat bagaimana dulu waktu kecil ia masih nenen pada ibunya? Masih ingatkah bau keringat ibunya sewaktu menangis karena meminta disusui? Lebih jauh lagi, masih ingatkah manusia pada keadaan sewaktu di dalam rahim? Apakah disana panas, dingin, sesak, basah, amis, atau apa?

Sebelum sampai di rahim, ingatkah manusia sebelum itu berbuat apa saja, tinggal dimana, dengan siapa? Ada yang ingat?

Lalu setelah hari ini, setelah detik ini, apakah ada yang tahu akan melangkah kemana? Setelah lulus kuliah, lalu bekerja, lalu menikah, memiliki anak, memiliki cucu, menua. Setelah menua, hendak kemana lagi?

Barangkali kejadian hari ini menjadi sebuah pelajaran. Bahwa sebuah pencapaian –yang biasa orang sebut dengan kata ‘kesuksesan’, barangkali memang tidak ada. Ketika seseorang mampu mencapai sebuah prestasi, sebut saja lulus sidang pendadaran, itu bukanlah sebuah kesuksesan. Itu hanyalah sebuah step atau langkah. Sebuah titik untuk mencapai titik-titik selanjutnya. Setelah lulus pendadaran dan diwisuda, lalu melamar kerja di sebuah perusahaan ternama. Bila ia diterima di perusahaan tersebut, ia boleh menyebut dirinya sukses, tapi cuma pada detik itu juga. Cukup satu detik. Setelah itu, perjalanan harus dilanjutkan kembali.

Pertanyaan-pertanyaan sederhana seringkali muncul dalam kepala. Bahwa sebenarnya hidup itu untuk apa? Apakah sekedar hanya untuk bekerja, makan dan berkumpul bersama keluarga, lalu menua dan mati? Bukankah itu tidak ada bedanya dengan binatang?

Apakah hanya sekedar menjadi orang baik, memberi sedekah pada yang membutuhkan, dan ikut rapat RT-RW? Atau menjadi mahasiswa yang rajin, tidak mencontek sewaktu ujian, patuh pada peraturan kampus, dan lulus cepat. Setelah itu bekerja di perusahaan dengan gaji selangit, menikah dan membangun keluarga yang harmonis, apakah hanya sebatas itu?

Atau, menjadi seseorang yang sedikit agak nakal. Waktu ujian mencontek, memanipulasi data sewaktu praktikum di kelas, dan kalau sedikit beruntung, menjadi pengurus organisasi kampus lalu menggelapkan uang organisasi. Seperti itu kah jalan manusia?

Ahh.. manusia. Memang tidak tahu mana ujung mana pangkalnya. Jalan hidup ini tak ada ujung.

 

Leave a comment

Filed under Cerita Pribadi

Silakan tinggalkan pesan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s