Yang Lain Menyembunyikan Kepalsuan, Sebagian Lagi Menyembunyikan Kebenaran

Kejujuran adalah mata uang yang berlaku dimana-mana, kata orang bijak seperti itu. Namun bukan berarti kejujuran juga bisa diobral begitu saja. Namanya manusia harus tahu tempat dan waktunya, kapan ia harus bersikap jujur dan kapan ia harus bersikap tidak jujur –tidak jujur artinya bukan bohong loh ya.

Hidup jujur memang baik, malahan yang terbaik. Semua agama pasti mengajarkan tentang kejujuran. Jujur adalah jujur, lawan kata dari bohong. Namun seringkali terdengar istilah ‘bohong putih’. Benarkah bohong itu dibenarkan? Belum ada alasan yang kuat untuk membantah ataupun menyetujui pernyataan tersebut.

Banyak orang hidup dalam kebohongan atau kepura-puraan. Banyak modus dan alasan yang melandasi kepura-puraan tersebut. Ada yang bersikap baik kepada tetangganya, padahal ada modus di dalamnya. Memberikan makanan enak padahal sejatinya karena ia ingin dipilih sebagai caleg tahun depan. Tersenyum ramah pada pemilik warung padahal sebenarnya ia ingin berhutang beras. Sebelumnya, tidak ada keramahan tersebut.

Di tempat lain, ada orang yang mengunggah foto mesra dengan kekasihnya di twitter dan facebook untuk menunjukkan bahwa ia dekat dengan kekasihnya. Padahal bisa jadi itu hanyalah kepura-puraan untuk membohongi diri sendiri bahwa sebenarnya ia tidak begitu mencintai kekasihnya tersebut, namun agar cinta itu tetap (terlihat) ada maka ia memasang foto mesra tersebut sebagai foto profilnya. Ia tidak ingin menjadi gunjingan orang karena ketidakmesraannya dengan kekasihnya tersebut.

Ada pula orangtua yang selalu bersikap ramah kepada anak-anaknya. Pulang kerja selalu memberikan wajah sumringah dan penuh canda tawa ketika di rumah. Padahal bisa jadi si orangtua sedang terlilit hutang yang menggunung. Orangtua tidak ingin masalah hutangnya ikut membebani anaknya, takut membuat prestasi anaknya di sekolah menurun. Kepura-puraan tersebut dibalut dengan senyuman yang indah setiap harinya.

Ada juga seseorang yang sebenarnya mengidap penyakit yang amat kronis. Dokter memvonis umurnya tidak akan lagi —ahh.. punya hak apa si dokter ini sampai punya wewenang jatah hidup seorang manusia. Namun karena ia tidak ingin menjadi beban pikiran bagi anggota keluarga lainnya maka ia bersikap diam, bersikap ramah pada semua orang, dan selalu menebar senyum, bahwa hidupnya tidak ada yang perlu dikhawatirkan. 

Ada beragam macam alasan orang hidup dalam ketidakjujuran atau kepura-puraan. Ada yang memang berpura-pura demi mencapai keinginannya –meski dengan cara yang buruk, ada pula yang berpura-pura demi menjaga perasaan orang lain. Mungkin adanya beragam alasan inilah yang membuat bahwa ‘bohong putih’ itu dibenarkan. Dibenarkan untuk menjaga perasaan orang lain, namun tidak dibenarkan karena sejatinya ia membohongi hati nuraninya sendiri. Orang lain bahagia tapi dirinya menderita.

Tidak ada manusia yang tidak berpura-pura dalam hidupnya. Berpura-pura menyembunyikan ketakutannya, ada pula yang berpura-pura menyembunyikan kesedihan hati yang ditanggungnya. Ada yang menyembunyikan kegembiraan dalam hati, ada pula yang berpura-pura menyembunyikan kesombongan hati. Yang lain menyembunyikan kepalsuan, sebagian lagi menyembunyikan kebenaran. Menyembunyikan cinta, benci, dan seratus ribu alasan lainnya. Itulah manusia.

Leave a comment

Filed under Inspirasi

Silakan tinggalkan pesan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s