Pelajaran dari Tukang Roti

Foto: yangmeixia.wordpress.com

Foto: yangmeixia.wordpress.com

Pagi itu jam menunjukkan pukul 5.00 pagi. Masih terlalu pagi sebenarnya untuk bersiap-siap pergi kerja. Apa mau dikata, jarak rumah kantor yang jauh mengharuskan saya berangkat paling lambat jam 5.30. Seringkali terbersit ketidakpuasan, kenapa tidak seperti tetangga-tetangga yang lain, yang jam 7 saja masih belum siap-siap. Apalagi rasa kantuk ini masih menyerang, habis shalat subuh tidak boleh tidur lagi, kalau tidak ingin kebablasan.

Seorang tukang roti setiap hari lewat depan rumah saya di jam yang sama. Ketika saya baru akan mandi, mungkin dia sudah berangkat dari rumahnya. Menembus dinginnya udara pagi hanya dengan sepeda. Menggerakkan tubuh ini untuk bangun dari tidur saja sudah sulit, sementara ia menggerakkan seluruh tubuhnya untuk menjalankan sepeda. Bukan itu saja, saya perhatikan setiap hari tukang roti itu lewat depan rumah saya dua kali sehari. Pagi dan malam. Tepat pukul sembilan ketika saya mulai merasakan kenyamanan dan kelembutan busa kasur den selimut, ia lewat. Bahkan di saat hujan.

Malu diri ini jika dibandingkan dengan tukang roti itu. Jika mau dibandingkan, berapa penghasilannya dari menjual roti, karena kemungkinan besar ia hanya penjual keliling, bukan pemilik pembuatan roti. Hampir tidak ada pemilik pembuatan roti mengantarkan sendiri dagangannya setiap hari, dua kali, dengan sepeda pula.

Teringat hadits-hadits Rasulullah saw:

”Siapa saja pada malam hari bersusah payah dalam mencari rejeki yang halal, malam itu ia diampuni”. (HR. Ibnu Asakir dari Anas)

”Siapa saja pada sore hari bersusah payah dalam bekerja, maka sore itu ia diampuni”. (HR. Thabrani dan lbnu Abbas)

”Tidak ada yang lebih baik bagi seseorang yang makan sesuatu makanan, selain makanan dari hasil usahanya. Dan sesungguhnya Nabiyullah Daud AS, selalu makan dan hasil usahanya”. (HR. Bukhari)

”Sesungguhnya di antara dosa-dosa itu, ada yang tidak dapat terhapus dengan puasa dan shalat”. Maka para sahabat pun bertanya:

“Apakah yang dapat menghapusnya, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab: ”Bersusah payah dalam mencari nafkah.” (HR. Bukhari)

”Apabila kamu selesai shalat fajar (shubuh), maka janganlah kamu tidur meninggalkan rejekimu”. (HR. Thabrani)

”Berpagi-pagilah dalam mencari rejeki dan kebutuhan, karena pagi hari itu penuh dengan berkah dan keherhasilan.” (HR. Thabrani dan Barra’)

“Sesungguhnya Allah Ta‘ala suka melihat hamba-Nya bersusah payah dalam mencari rejeki yang halal”. (HR. Dailami)

“Sesungguhnya seseorang di antara kamu yang berpagi-pagi dalam mencari rejeki, memikul kayu kemudian bersedekah sebagian darinya dan mencukupkan diri dari (meminta-minta) kepada orang lain, adalah lebih baik ketimbang meminta-minta kepada seseorang, yang mungkin diberi atau ditolak.” (HR. Bukhari dan Muslim)

“Sebaik-baik nafkah adalah nafkah pekerja yang halal.” (HR. Ahmad)

“Sesungguhnya Allah SWT sangat menyukai hamba-Nya yang Mukmin dan berusaha”. (HR. Thabrani dan Baihaqi dari lbnu ‘Umar)

”Barangsiapa yang bekerja keras mencari nafkah untuk keluarganya, maka sama dengan pejuang dijaIan Allah ‘Azza Wa Jalla”. (HR. Ahmad)

Malu diri ini. Mungkin dari segi materi ia tidak sebanding dengan saya, tapi dari segi amalan? Luar biasa.

Ya Allah maafkanlah kesalahanku, ketidakbersyukuranku. Segala puji bagimu yang telah memberiku petunjuk melalui seorang tukang roti.

*Sharing dari Grup Line #RumahSTIFIN oleh Aditya Azka

Leave a comment

Filed under Inspirasi

Silakan tinggalkan pesan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s