Hidup Adalah Sebuah Perjalanan

Hidup adalah sebuah perjalanan. Menyusuri jalanan berliku dan penuh dengan lalu lalang kepentingan. Kadangkala kita akan berjalan di sebuah jalan beraspal yang mulus dan lurus, sehingga kita bisa menumpang mobil lewat agar cepat sampai. Namun di sebuah persimpangan mobil tersebut harus belok kiri, padahal tujuan kita ke kanan, maka turunlah kita dan melanjutkan tersebut kembali –dan seringkali sendiri. Di perjalanan-perjalanan selanjutnya kita akan bertemu orang-orang baru, orang-orang yang satu tujuan, meski kadang di persimpangan kita pun akan berpisah dengannya.

Semua orang adalah pengembara, yang mendambakan pengalaman bermakna bersama orang-orang yang mereka sayangi. Waktu kecil kita akan mengembara bersama orangtua dan saudara-saudara kita. Beranjak remaja kita akan bertemu orang-orang yang juga berjalan menuju tujuan mereka. Ada orang-orang yang satu perjalanan dengan kita di SD, SMP, SMA, perguruan tinggi, komunitas, organisasi, dan lain sebagainya. Mereka adalah orang-orang yang menemani langkah kita di jalan yang lurus dan mulus tersebut. Bersama-sama menumpang ‘mobil’ dan terpisah ketika di persimpangan.

Semakin dewasa kita akan mulai mencari teman perjalanan yang bersedia berkompromi saling menemani. Ia adalah pasangan istri atau suami kita. Perjalanan baru akan dimulai, tidak sendiri lagi tentunya. Apalagi ketika seorang buah hati hadir di tengah perjalanan tersebut. Suasana menjadi hangat namun akan menjadi hambatan bagi mereka yang kurang dapat memaknainya.

Ada yang menempuh perjalanan tersebut dengan berjalan kaki, naik sepeda ontel, sepeda motor, mobil, bahkan pesawat. Masing-masing memiliki kelebihan dan kekurangan. Ada yang kelihatannya lambat namun aman, ada pula yang begitu cepat namun juga beresiko. Dalam perjalanan tersebut kita tentunya butuh bantuan orang lain. Bagaimana kalau ban kita bocor, bukankah kita membutuhkan tukang tambal ban? Bagaimana kalau lapar, bukankah kita membutuhkan warteg? Merekalah yang membantu menempuh perjalanan kita, meski sebenarnya mereka juga tengah menempuh perjalanan mereka sendiri.

Lalu kemana sebenarnya perjalanan tersebut menuju? Apakah ke masa depan penuh kebahagiaan? Menuju kesuksesan dengan gelimang harta? Ataukah menuju tempat yang mereka sebut dengan surga?

Tujuan masing-masing orang tentunya berbeda. Hal itu membuat kita tidak boleh semena-mena memaksakan tujuan hidup pribadi kita kepada orang lain –kecuali memang awalnya sudah berkompromi. Maka nikmatilah perjalanan kita sendiri, jangan memaksa orang lain untuk ikut dengan kita. Boleh kita menawarkan tumpangan sampai ke kota Jogja, kalaupun ia ingin turun di terminal Jombor maka sebaiknya kita menurunkannya disana, karena memang tujuannya hendak ke Magelang. Kita tidak boleh memaksa mereka untuk ikut dengan kita yang hendak pergi ke Solo.

Nikmatilah perjalanan tersebut. Tidak peduli ia saudaramu, sahabatmu, atau bahkan musuhmu sekalipun. Nikmatilah perjalanan dengan mereka. Barangkali jika kelak kita sudah sampai di tempat tujuan, perjalanan itulah yang akan kita kenang.

Life is a journey, not what you see but what you want to see.
Life is a journey, not a destination.

Leave a comment

Filed under Inspirasi

Silakan tinggalkan pesan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s