Siapa Kita 100 Tahun Lagi

Minggu, 14 Juli 2013. Hari ini adalah hari ke-5 puasa di bulan Ramadhan ini. Tulisan ini dibuat ketika sedang turun hujan di tempat kost saya di Yogyakarta. Akhir-akhir ini Yogyakarta memang sering diguyur hujan. Padahal kalau dilihat pada kalender musim, harusnya bulan Juli ini masuk musim kemarau. Entahlah, dunia sudah terbolak-balik sekarang. Musim hujan jadi kemarau, kemarau jadi hujan. Wanita berdandan ala pria, pria berdandan ala wanita.

Pada hari ke-5 puasa ini benih-benih kebaikan apa yang sudah kita tanam sampai detik ini? Apakah benih-benih tersebut akan menjadi sebuah kebanggaan pada generasi yang akan datang? Sehingga nantinya, anak cucu kita di masa depan akan berkata dengan lantang “Aku adalah cucu dari _____ yang telah membuat negeri ini makmur gemah ripah loh jinawi“. Atau kita malah menanam benih-benih kejahatan dan kerusakan sehingga anak cucu kita di masa depan justru akan berkata, “Huh.. Gara-gara kakek saya, sungai sekarang kotor, hewan-hewan sudah punah, ozon berlubang, banjir dimana-mana, dll”.

Atau bahkan mungkin kita tak menyisakan apa-apa lagi bagi anak cucu kita? Dunia ini telah sebegitu rusaknya sehingga tidak mungkin untuk ditinggali lagi.

Saat kita membuang puntung rokok sembarangan, membuang bungkus permen sembarangan, membuang ludah sembarangan, dan sebagainya, pernahkah terpikir bahwa tindakan tersebut akan ditiru oleh orang yang kebetulan melihat perbuatan kita. Pernahkah kita berpikir bahwa dia akan berkata pada anaknya, “Buang situ aja, Nak. Tidak apa-apa. Mas-mas yang disana juga buang sembarangan kok”.

Coba pikirkan, bahwa apapun yang kita kerjakan, pasti akan ada satu dua orang yang akan meniru. Dan itu akan menjadi amal jariyah kita di masa mendatang. Perbuatan baik akan mendatangkan amalan baik di masa depan, dan perbuatan buruk akan mendatangkan dosa turunan yang tak berkesudahan.

Setiap perbuatan pasti akan mendapatkan balasannya. Jangan marah kalau orang lain tidak mau peduli dengan kita. Boleh jadi karena kita juga tak pernah peduli sama orang lain. Jangan sedih kalau anak-anak tidak mau menurut,mungkin memang kita tak pernah mempersiapkan dunia yang baik bagi mereka. Sebaliknya, jangan bersedih apabila kita dizalimi orang lain, akan ada waktunya orang lain juga merasakannya. Namun bukan berarti kita mendoakan orang lain supaya celaka, tidak. Maksudnya, segala sesuatu sudah ada pasangannya, sudah ada cerminnya.

Siapa dirimu di masa depan ditentukan dari perilakumu saat ini.

Leave a comment

Filed under Cerita Pribadi

Silakan tinggalkan pesan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s