Vespaku Naik Mobil Patwal Polisi

Vespaku diangkut mobil polisi

Vespaku diangkut mobil polisi

Ceritanya begini. Sabtu kemarin saya pergi ke daerah Jambidan, Banguntapan, Bantul untuk mengambil hasil tes BOD-COD limbah pepaya california di sebuah laboratorium kimia. Lokasinya bisa dibilang cukup pelosok, karena dari Balong Waterpark masih ke selatan lagi, kemudian perempatan pertama belok kiri hingga hampir 1 km lebih.

Setelah selesai bertransaksi dengan orang lab –maksudnya membayar biaya tes, saya langsung menyalakan si Krimmy (nama panggilan bagi vespa saya) dan berniat pulang. Waktu itu sekitar pukul 10.30. Vespa melaju lancar hingga akhirnya sampai di perempatan ringroad Kotagede. Saya dengan PD-nya berhenti di lampu merah dengan tenang. Tiba-tiba seorang polisi melihat Krimmy tanpa plat nomor depan, tanpa spion, hingga akhirnya polisi tersebut menggiring saya ke pos.

Di pos polisi tersebut diketahui bahwa vespa saya tidak dipajaki selama 3 tahun berturut-turut, hehehe.. Dosa saya hari itu adalah tidak pakai spion, tidak pakai plat nomor depan, dan STNK tidak dipajaki selama 3 tahun. Akhirnya saya ditawari 3 opsi: membayar denda di tempat, membayar di bank dengan denda tertinggi, atau mengikuti sidang di Bantul sekaligus membayarnya disana. Saya menimbang-nimbang dan menanyakan kalau membayar di tempat biayanya berapa, polisinya menjawab Rp 100.000 untuk 3 kesalahan.
Berdasarkan pengalaman saya sekitar 3 tahun lalu, saya pernah ditilang karena memboncengkan teman tanpa mengenakan helm. Dari 1 kesalahan tersebut saya dikenai denda Rp 40.000 waktu sidang di pengadilan Kota Jogja. Mengingat 3 kesalahan tersebut, karena saya juga tidak membawa uang, akhirnya saya memutuskan pulang dulu sambil menyerahkan STNK dan SIM sebagai sandera. Sebelum pulang saya ditahan sebentar oleh si polisi.

Mas, vespanya dijual ngga? Saya berani beli mahal, Mas.

Ohshitmen. Polisi ini ternyata berniat mengincar vespa saya, pakai alasan menilang segala. Oke. Fine. Nanti kita lihat takdir berikutnya.

Sebelum saya pulang, si polisi tersebut berkata bahwa STNK dan SIM saya bisa diambil di pos polisi ringroad Giwangan. Malam hari, jam 20.00 saya menuju ke sana. Dengan mengendarai si Krimmy yang paling ganteng sedunia. Malam itu saya memutuskan memasang spion yang sebelumnya saya lepas. Tapi plat nomornya tetap tidak saya pasang karena memang tidak ada baud untuk memasangnya. Krimmy melaju dengan lancar melalui ringroad timur menuju Giwangan. Kecepatannya mungkin hanya sekitar 40 km/jam. Saya tidak berani mengebut mengingat lampu Krimmy juga mati.
Payah juga nih kalau ketahuan polisi lagi, lampu yang mati bisa menambah dakwaan kesalahan saya. 

Pukul 20.30 saya sampai di pos polisi. Saya masuk ke dalam pos dan tawar menawar denda dilakukan lagi seperti tadi siang. Mau membayar denda lewat bank BRI dengan denda tertinggi (slip biru), mengikuti sidang di Bantul dengan kemungkinan denda bisa lebih murah atau lebih mahal (slip merah), atau membayar di tempat dengan denda Rp 100.000.
Setelah menimbang dan mengukur, kalau ambil slip biru berarti saya harus transfer ke bank, padahal ATM saya isinya cuma tinggal Rp 60.000. Kalau ambil slip merah artinya saya harus ke kantor pengadilan Bantul, udah jauh, nunggu 2 minggu pula. Malasnya. Akhirnya dengan berat hati saya membayar Rp 100.000 kepada polisi di pos tersebut. Mengingat 3 kesalahan yang saya lakukan memang tergolong berat.

Pembayaran denda selesai dan dengan ini saya telah berkontribusi dalam memperpanjang cerita nepotisme di negeri ini. Saya hendak pulang dengan Krimmy. Saya putar balikkan badan Krimmy yang montok itu. Saya slah sekali, dua kali, tiga kali, dan tidak nyala juga. Saya buka kap mesinnya, saya copot businya, karburatornya, saya bersihkan lubang businya. Saya buka pula kantong bensinnya. Tetap saja tidak menyala. Saya berpikir keras, apa iya malam ini saya harus mendorong Krimmy dari Giwangan menuju Babarsari?
Ohh.. Apa dosa saya Tuhan?

Mungkin polisi yang berada di dalam pos merasa iba dengan kondisi vespa saya yang tidak menyala-nyala. Polisi 1 keluar, menawarkan diri untuk membantu mendorong, siapa tahu bisa nyala. Saya terima tawaran itu.

Saya duduk di jok Krimmy, masukkan gigi 3, kopling ditarik. Lalu si polisi 1 pun mendorong vespa saya dengan cepatnya. Bolak-balik sebanyak 2 kali, dan tidak menyala juga. Polisi 1 merasa ngos-ngosan sampai ia berjongkok di tepi jalan. Saya tertawa dalam hati.

Yess! Capek kan, Pak? hehehe… Siapa suruh menilang saya.

Polisi 2 keluar dari pos dan menawarkan untuk mengangkut vespa saya menggunakan Mitsubishi Ranger. WOW!!
Saya kaget bukan main. Sebegitu baikkah seorang polisi menolong masyarakat?
Baiklah. Saya terima tawaran ini. Miko, sahabat saya yang sebelumnya saya telpon untuk menjemput saya akhirnya saya SMS lagi bahwa saya batal menginapkan Krimmy di rumahnya.
Dengan bersusah payah, saya dan 2 polisi tersebut akhirnya bisa menaikkan si Krimmy ke atas bak Mitsubishi Ranger.
Ya! Malam ini Krimmy akan pulang naik mobil Patroli Polisi.

Sepanjang perjalanan Krimmy menjadi pusat perhatian semua orang. Baik itu di perempatan lampu merah maupun di jalan sepanjang ringroad. Apalagi begitu mobil patwal tersebut memasuki gang kosan di Babarsari. Semua mata tertuju pada Krimmy. Bahkan seorang Ibu pemilik laundry kaget bukan main. Dikiranya saya terlibat pencurian sepeda motor karena saya keluar dari mobil polisi dengan sebuah vespa ganteng di bak belakangnya.

Menaikkan vespa ke atas bak mobil ternyata berbanding lurus dengan menurunkannya. Bahkan saya harus memanggil 1 orang teman kos untuk membantu menurunkan vespa tersebut dari bak Ranger.

Demikian cerita saya yang kena tilang, kemudian vespa saya mogok dan diangkut dengan mobil patroli polisi.

Pelajaran malam ini.

Pak Polisi boleh saja menilang saya. Tapi uang tersebut bisa dianggap sebagai upah mengantarkan saya pulang ke kosan. Sebagai upah mendorong vespa. Dan sebagai upah menaikkan dan menurunkan vespa dari dan ke Ranger.

Krimmy marah karena uang saya diembat polisi. Akhirnya ia memutuskan mogok supaya polisi bisa merasakan jerih payah menggotong vespa ke atas bak mobil.

2 Comments

Filed under Cerita Pribadi

2 responses to “Vespaku Naik Mobil Patwal Polisi

  1. Hehehe…, nice story.
    Kamu bilang ‘jangan suap menyuap!’ tapi susah dijalani.
    Verpa emang unik.

Silakan tinggalkan pesan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s