Matahari Pagi di Tepi Jogja

Selamat pagi kekasih,
Apa kabar pagimu? Bagaimana malam minggumu semalam? Apakah lelaki itu datang lagi semalam? Kalaupun iya, tak apa. Aku tidak cemburu. Hadirnya ia di hidupmu saat ini tak perlu aku khawatirkan, karena aku anggap ia adalah batu loncatan bagimu untuk datang ke pelukanku. Boleh dikata, lelaki itu hanya tempat penitipan selagi aku mewujudkan cita-cita kita.

Apa kesibukanmu pagi ini?
Masak apa pagi ini? Sudah mencuci baju? Sudah menyapu rumah? Sudah berapa banyak macam menu masakan yang dapat kau racik? Bagiku, bisa tidaknya engkau memasak tentu itu bukan syarat untuk bisa berlabuh di hatiku. Semacam sunnah gitu lah, sunnah muakad. Toh nanti kalau masakanmu tidak enak, kita bisa makan di luar, di bukit bintang atau di tepi pantai misalnya. Kalaupun nanti kita sedang tidak punya uang karena terlalu sering makan di luar, tidak masalah kan kita cuma masak mie rebus di rumah? Bukankah yang kita nikmati itu kebersamaan kita, bukan rasa dari mie rebus itu sendiri.

Kekasih,
Aku tak tau kapan engkau datang, dan sebaliknya, tidak tahu pula kapan aku datang menemuimu. Aku biarkan saja Tuhan yang mempertemukan. Mau di pasar Beringharjo kek, bandara Changi kek, di danau Toba, atau barangkali ketika kita sama-sama jadi relawan kemanusiaan di Suriah 10-20 tahun lagi, hanya Tuhan yang tahu. Atau barangkali kita baru bertemu ketika umur kita sudah sama-sama 70 tahun, suami pertama hingga ketigamu sudah mati, begitu juga dengan istri-istriku, tidak ada yang tahu. Bukankah urusan cinta itu urusan gaib? Kita tidak bisa memilih kapan ia harus datang dan kepada siapa ia harus berlabuh. Kita tidak bisa memaksa ia harus selalu ada. Kita tidak bisa memaksa ia harus selalu setia. Karena urusan bolak-balik hati itu urusan Tuhan.

Ahh.. melankolis sekali tulisanku pagi ini. Biarlah, barangkali ini bakal jadi kenangan kita kelak.
Aha.. jangan lupa ya kenalkan siapa lelakimu saat ini. Yang barangkali malah bukan itu jodohmu meski kalian menikah puluhan tahun. Barangkali malah aku yang jadi jodohmu, siapa tahu.

Leave a comment

Filed under Cerita Pribadi

Silakan tinggalkan pesan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s