Yogyakarta-Purwokerto (2)

Cerita yang saya tulis 10 bulan lalu saya beranikan untuk saya selesaikan. Cerita ini mesti diselesaikan karena memang: Apa yang sudah kau mulai maka harus kau selesaikan.

Hari kedua itu, ba’da sholat Shubuh, saya mulai mengayuh sepeda. Perjalanan pagi memang seru, udara dingin membuat badan tak mudah lelah, pun bisa menyaksikan bagaimana kesederhanaan di pedesaan. Orang-orang sibuk mengayuh sepedanya menuju pasar, ada juga yang pulang dari pasar, kepul asap kopi pagi di warung kopi, transaksi jual beli rajakaya (istilah untuk dagangan kambing, domba, sapi, kerbau) di pinggir jalan, dan sebagainya. Semuanya begitu ramai, tidak ada yang tidak bekerja.

Perjalanan membawaku semakin jauh hingga ke Bulupesantren. Menyusuri jalan yang tak pernah kulewati sebelumnya. Jalanan desa, padi di kanan kirinya, anak-anak sekolah berangkat dengan sepedanya, para petani, dan semuanya, menemani perjalananku.

Hidungku mulai mencium adanya bau tak sedap ketika aku melewati pasar desa yang aku sendiri lupa namanya (kesalahan terbesar adalah ketika aku tidak langsung menuliskan ceritaku ini di blog, sehingga aku lupa nama beberapa tempat unik yang kulewati). Di depan jalan, rupanya ada kerumunan orang si bawah gubuk. Aku pelankan sepedaku dan berhenti disana. Oh, rupanya ada bakul serabi. Serabinya unik karena disangan (digoreng tanpa minyak) dan menggunakan kayu kering (tanpa kompor). Aku coba memesan 3 potong serabi dan wow rasanya ketika kuketahui kalau harganya cuma Rp 1.000 per potongnya. Aku takjub dan senang, harga yang murah dan kebahagiaan seorang bapak tua ketika tahu ada pembeli di depannya.

Selesai sarapan serabi dan mampir ke warung makan untuk minum teh hangat, sepeda kembali kukayuh. Masih melewati jalan perdesaan dengan kesederhanaannya, melaju terus hingga aku sampai di Gombong, beralih dari jalan perdesaan ke jalan raya.

Perjalanan di jalan raya cukup menguras tenaga. Kondisi cuaca yang panas, bersaing dengan asap knalpot dari truk besar, membuatku berulang kali berhenti dan beristirahat. Gombong, Tambak, Sumpiuh, Kemranjen, Buntu, Rawalo, Kebasen, terus lurus hingga sampai Bendungan Serayu. Pukul 03.00 sore saya beristirahat di tepi Sungai Serayu. Memijit-mijit kaki, tiduran di bawah pohon, minum air dan bersyukur bisa sejauh ini mengayuh sepeda.

Pukul 03.30 saya bersiap diri. Rumah sudah menanti. Tahu bahwa sebentar lagi sampai ke rumah, semangat saya semakin membara. Sepeda saya kayuh dengan cepat. Melewati liak-liuk jalan raya di pinggir Sungai Serayu, terus ke utara melewati Patikraja dan dengan bersusah payah berhasil melewati tanjakan hingga sampai ke Purwokerto. Di Sawangan (nama daerah di Purwokerto, dekat dengan alun-alun kota, juga tempat membeli beberapa oleh-oleh khas Purwokerto dan Banyumas) saya semakin tersenyum. Saya kayuh terus melewati rel kereta stasiun Purwokerto, melewati Karanglewas, terus ke barat hingga sampai Karanggude.

Pukul 05.00 saya sampai di rumah, di Desa Karanggude Kulon. Rasa bahagia dan syukur karena berhasil melewati 210 KM dari Yogyakarta ke Purwokerto. Sambutan dan pelukan hangat dari Ibu menghapuskan semua rasa lelahku.
Aku siap untuk perjalanan amazing yang lainnya.

:))

Leave a comment

Filed under Cerita Pribadi

Silakan tinggalkan pesan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s