Roqm #13 – Merayakan Idul Fitri di Egypt

Terlambat dua (2) minggu untuk menceritakan pengalaman saya merayakan Idul Fitri di Egypt.
Better late than never.

Jum’at, 17 Juli 2015.

Ini adalah tahun pertama saya merayakan Idul Fitri di negara orang. Pun genap 29 hari tidak buka bersama dan makan sahur bersama keluarga. Ada yang kurang rasanya. Namun selalu ada syukur dimanapun kita berada.

Perayaan Idul Fitri di Egypt secara garis besar seperti ini.

  1. Tidak ada takbiran di malam Idul Fitri
    Di malam Idul Fitri masjid nyaris sepi tidak ada gema takbir, masjid pun tidak seramai ketika malam tarawih. Malah jalanan yang kelihatan lebih ramai. Ada rasa syukur juga sih karena tidak ada gema takbir, perasaan rindu kampung halaman menjadi tidak terasa.
  2. Tidak ada ketupat, untung ada opor ayam, rendang juga ada
    Ya memang berbeda kebudayaan sih ya, wajar lah orang di Egypt tidak ada ketupat. Mau bikin ketupat dari mana coba, pohon kelapa aja nyaris tidak ada. Mau bikin dari daun kurma, alah orang Egypt sepertinya tidak bisa manjat pohon deh. Belum pernah saya lihat orang Egypt naik pohon.
    Alhamdulillah kalau opor ayam dan rendang sapi ada. Dari mana? Beli? Oh yo ndak to, masak sendiri dong. Hidup merantau membuat kita harus serbabisa segala hal. Mulai dari memasak makanan yang sebelumnya belum pernah kita coba. Kegiatan memasak ini berhasil karena dukungan dari teman-teman mahasiswa Al Azhar. Resep rahasia memasak ini saya dapat dari mereka. Hehehe
  3. Tidak ada silaturahim dan maaf-memaafkan di Egypt
    Di hari raya Idul Fitri saya tidak melihat ada orang Egypt berkunjung ke rumah tetangganya. Jadi ya, mereka hanya bertemu di jalan dan di tempat sholat Ied, cipika-cipiki (cipika-cipiki adalah hal lumrah di Egypt, pria dengan pria, wanita dengan wanita), lalu bertanya kabar dan basa-basi ini itu.
    Dan soal maaf-memaafkan, nyaris tidak ada disini. Kalau di Indonesia kan lumrah ya, kita sowan ke rumah tetangga, ke rumah sesepuh, ke rumah orang yang berpengaruh, sungkeman dan meminta maaf kalau kita banyak salah. Di Egypt, orang meminta maaf pun tidak ada. Mereka hanya mengucapkan Kullu sanah wa inta thoyib atau Kullu ‘amr wa antum bi khoir. Hanya itu saja. Persoalan meminta maaf ini pun jarang sekali saya dengar di Egypt. Enam (6) bulan di Egypt, hanya 1 orang yang pernah meminta maaf di depan muka saya. Itu pun kayaknya terpaksa sekali. Entah kenapa orang Egypt sangat susah meminta maaf ke orang lain.
  4. Gang-gang kampung dihias macam mau 17 Agustusan
    Nah ini yang seru. Gang-gang kampung dihias lampion, bendera warna-warni, petasan disana-sini. Mirip sekali dengan 17-an. Pokoknya, Ramadhan dan lebaran di Egypt ramai mirip 17an. Ada juga musik disko yang diputar di sudut-sudut kampung pasca sholat Ied.

    Jpeg

    Gang kampung dihias dengan bendera dan bunyi petasan disana-sini

  5. Sholat Ied di lapangan parkir
    Sholat Ied dimulai pukul 05.00 pagi waktu Egypt. Kebetulan waktu sholat Subuh disini jam 3.00 pagi, jadi jam 4.30 pun sudah terang. Dengan memakai pakaian terbaik dan parfum terwangi kami menuju lapangan parkir. Ya, kami sholat di lapangan parkir. Pada hari biasa, khususnya hari Jum’at lokasi ini adalah pasar mobil bekas terbesar di Egypt. Tidak ada alas sujud semacam karpet atau terpal, bahkan penjual koran seperti yang kita lihat di Indonesia, yang khusus menjajakan sebagai alas sholat Ied, tidak ada. Jadi kami harus membawa sendiri sajadah kami sendiri. Bagi yang tidak punya sajadah ya harus rela sholat beralaskan tanah. Tapi ndak juga, masih banyak orang baik yang bersedia membagi sajadahnya dengan kita.

    Jpeg

    Orang ramai bejibun di lapangan, macam orang mau demo

  6. Tidak ada orang sholat menggunakan sarung
    Orang Egypt kalau sholat memakai celana panjang dan baju biasa. Mayoritas mereka memakai jalabiya (istilah dari Egypt), sebuah pakaian terusan mirip daster dengan warna polos (puih, abu-abu, biru, hitam, dll). Tidak ada orang memakai sarung karena anggapan orang Egypt, dan umumnya orang Arab, orang yang memakai sarung adalah orang yang habis melakukan sunnah rasul. Jadi tidak etis, pakaian bekas sunnah rasul kok dipakai buat sholat. Hehehe..
    Sarung hanya dipakai oleh orang-orang dari Indonesia. Entah kenapa seperti itu, orang Malaysia pun tidak ada yang memakai sarung. Unik memang, sarung adalah barang langka di Egypt.

    Jpeg

    Sarung, barang langka di Egypt dan harus dilestarikan

Yap, itulah gambaran mengenai sholat Idul Fitri di Egypt. Seru memang. Kita melihat hal-hal baru yang tidak pernah kita lihat di Indonesia.

Lalu, bagaimana gambaran Idul Fitri di tempat kamu berada, seperti apa? Coba ceritakan😀

1 Comment

Filed under Cerita Pribadi

One response to “Roqm #13 – Merayakan Idul Fitri di Egypt

Silakan tinggalkan pesan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s